KUNINGAN – Kabupaten Kuningan tak lagi sudi hanya duduk di bangku penonton sebagai pemasok bahan baku mentah. Lewat strategi hilirisasi dan standardisasi mutu, Kuningan siapkan diri jadi pemain kopi kualitas dunia yang sanggup bersaing di ceruk pasar premium mancanegara.
Lompatan besar ini resmi digaungkan bertepatan dengan momentum panen raya kopi di Desa Karangsari, Kecamatan Darma, pada Ahad (19/4/2026). Desa ini kini diproyeksikan menjadi model percontohan sekaligus lokomotif kebangkitan industri kopi daerah.
- Bidik Pasar Global, Kuningan Siapkan Diri Jadi Pemain Kopi Kualitas Dunia
- Demo Warga Kalimanggis Kulon Berbuah Hasil, Kades Wahidi Dipastikan Tak Ngantor Lagi Mulai Besok
- Limpasan Sampah Eceng Gondok Waduk Darma Cemari Sungai Cisanggarung, Warga Kadugede Protes
- Jelang Hari Kartini, Legislator Perempuan PKS Ungkap Makna Rahim di Balik Kekuatan Perempuan
- Incar Tiket Nasional, Ratusan Pelajar Bersaing Jadi Bibit Unggul Pencak Silat Kuningan
Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, menyebutkan pergeseran tren pasar global menuntut para petani untuk berubah. Saat ini, kopi tidak lagi dinilai sekadar sebagai komoditas penyegar dahaga, melainkan produk bernilai tinggi yang menjual kualitas, narasi, dan pengalaman mencecap rasa.
“Kita tidak boleh berhenti hanya menjual bahan baku. Kopi Kuningan harus naik kelas. Jangan sampai petani kita tertinggal dan hanya menjadi penonton saat dunia sedang berpesta kopi. Kita harus menjadi pelaku utamanya,” ungkap Dian.
Sebagai bukti keseriusan merangsek ke pasar global, komoditas kopi andalan Kuningan bersiap menjajal panggung internasional bergengsi, World of Coffee 2026, yang akan digelar di Bangkok, Thailand, pada 7–9 Mei mendatang. Langkah berani ini diambil setelah kopi Kuningan sebelumnya sukses unjuk gigi di ajang serupa di tingkat nasional (Jakarta).
“Kehadiran kita di Bangkok nanti bukan sekadar untuk ikut-ikutan pameran, tapi ini adalah pernyataan sikap bahwa kopi Kuningan benar-benar siap masuk dan bertarung di panggung dunia,” tambahnya.
Meski optimisme melambung tinggi, jalan menuju pasar ekspor bukan tanpa aral. Secara kuantitas, produktivitas perkebunan di Kuningan menunjukkan grafik yang menggembirakan. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, membeberkan bahwa produksi kopi jenis robusta melonjak tajam dari 726,03 ton pada tahun 2024 menjadi 1.173,39 ton pada 2025.
Di sisi lain, produktivitas kopi arabika juga terjaga stabil di angka 900 kilogram per hektare.Namun, Wahyu menyoroti bahwa pekerjaan rumah terbesar justru menanti di fase pascapanen.
“Tantangan nyata kita ada di sektor hilir. Standardisasi mutu, tata kelola, dan kapasitas pengolahan petani adalah kunci mutlak. Sebagus apa pun panennya, daya saing di pasar global sangat ditentukan oleh proses pascapanen,” jelas Wahyu.
Untuk menjembatani celah tersebut, pemerintah daerah menggandeng Bank Indonesia dalam membentuk klaster kopi di Desa Karangsari. Pendampingan ini difokuskan pada penguatan kualitas dan kelembagaan petani agar standar premium ekspor dapat terpenuhi secara konsisten.
Pemerintah Kabupaten Kuningan menaruh harapan besar, ke depan, para penikmat kopi tidak hanya mengantre untuk merek luar negeri, melainkan rela berburu demi secangkir kopi otentik dari lereng Ciremai. (Nars)

























