KUNINGAN – Menjelang peringatan Hari Kartini yang jatuh pada lusa, Selasa 21 April, refleksi mengenai esensi emansipasi kembali disuarakan dari gedung parlemen daerah. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Kabupaten Kuningan, Hj Siti Mahmudah, menyoroti bahwa di balik berbagai tuntutan peran ganda kaum hawa saat ini, tersimpan sebuah rahasia besar mengenai makna rahim yang mendefinisikan kekuatan sejati seorang perempuan hebat.
- Limpasan Sampah Eceng Gondok Waduk Darma Cemari Sungai Cisanggarung, Warga Kadugede Protes
- Jelang Hari Kartini, Legislator Perempuan PKS Ungkap Makna Rahim di Balik Kekuatan Perempuan
- Incar Tiket Nasional, Ratusan Pelajar Bersaing Jadi Bibit Unggul Pencak Silat Kuningan
- Sambut Arahan Prof. Ma’mun Murod, PK IMM Djazman Al-Kindi Ajak Civitas Akademika UM Kuningan Perkuat Sinergi dengan Ortom
- Ancaman Puso Menghantui! Lesehan di Sawah, Kadiskatan Kuningan Ajarkan Trik ‘Sakti’ Basmi Hama Wereng
Sebagai legislator perempuan PKS Kuningan, Siti Mahmudah memaknai semangat Kartini dengan menggali keteladanan dari sosok masa lalu dan pahlawan masa kini. Ia menyebutkan bahwa ketangguhan perempuan telah lama dicontohkan oleh Siti Khadijah, seorang pengusaha sukses yang membuktikan bahwa perempuan boleh memiliki pencapaian dunia, asalkan hartanya tunduk untuk urusan akhirat.
Di era modern ini, pahlawan inspiratif itu justru ia lihat menjelma dalam wujud guru ngaji di musala pelosok desa, yang tanpa sorot panggung dan imbalan materi berlimpah, secara tulus mampu melahirkan generasi tangguh penghafal Al-Qur’an.
Menghadapi tantangan zaman, legislator perempuan PKS Kuningan ini memberikan pesan mendalam bagi para perempuan muda agar tidak terjebak pada keinginan untuk tampil sempurna sejak awal langkah.
Menurutnya, hal terpenting adalah keberanian untuk memulai, baik itu menulis satu paragraf, membagikan satu ayat dakwah, maupun menjual satu produk usaha. Ia menegaskan bahwa dunia membutuhkan sosok perempuan yang tahu kapan harus menjadi Khadijah dan kapan menjadi Fatimah, yakni sosok yang mampu bersikap lembut tanpa menjadi lemah, serta berani bertindak tegas tanpa harus keras.
Siti Mahmudah kemudian merangkum seluruh kehebatan perempuan tersebut ke dalam filosofi satu kata yang paling esensial, yakni makna rahim. Secara harfiah, kata tersebut memiliki arti kasih sayang yang tak terbatas.
Namun lebih jauh dari itu, makna rahim menggambarkan ruang perlindungan pertama di mana sebuah kehidupan mulai tumbuh. Ia memberikan kehangatan dan nutrisi penuh, meskipun pada prosesnya sang perempuan harus menanggung rasa sempit dan sakit yang luar biasa demi menjaga kehidupan yang baru.
Pemahaman yang mendalam mengenai makna rahim inilah yang mengukuhkan posisi perempuan sebagai madrasah atau sekolah pertama bagi kemajuan peradaban sebuah bangsa. Menutup refleksinya, Hj Siti Mahmudah mengucapkan selamat Hari Kartini kepada seluruh perempuan tangguh yang saat ini sedang berjuang di perkantoran, dapur, sawah, maupun mimbar.
Ia berpesan agar kaum perempuan terus menyala menjadi penerang zaman, karena sebuah peradaban bangsa yang berakar kuat dipastikan selalu lahir dari didikan seorang ibu. (Nars)

























