KUNINGAN — Misteri hilangnya Parmo (48), warga Blok Manis RT 003 RW 001, Desa Ragawacana, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, hingga hari ketiga masih belum menemui titik terang.
Setelah melakukan penyusuran intensif sejak Ahad (3/5/2026) malam, Tim SAR Gabungan akhirnya memutuskan untuk menghentikan sementara proses pencarian di area sungai pada Selasa (5/5/2026). Fokus penanganan kini dialihkan pada investigasi darat oleh pihak kepolisian.
- Tiga Hari Pencarian Nihil, Tim SAR Hentikan Sementara Susur Sungai dalam Kasus Hilangnya Parmo di Kuningan
- Borneo FC Mengintai Puncak Klasemen dengan Tabungan Laga, Misi Balas Dendam untuk Persita Digelar Malam Ini
- Gadis 21 Tahun Asal Ciawigebang Hilang Usai Dijemput Motor, Ini Ciri-cirinya!
- Niat Hati Menolong, Sebar Foto KTP Hilang di Medsos Justru Rawan Pencatutan Identitas
- Djoni Toat Muljadi Kembali Pimpin FOBI Jabar, Fokus Bidik Kesuksesan Porprov XV 2026
Kejadian bermula pada Ahad sore sekitar pukul 15.00 WIB, saat korban berpamitan pergi ke Blok Sawah Bojong untuk mencari rumput pakan ternak. Kepanikan mulai terjadi ketika hari menjelang malam, namun Parmo tak kunjung pulang ke rumah. Keluarga dibantu warga setempat yang melakukan penyisiran ke lokasi sawah hanya mendapati barang-barang milik korban.
Ironisnya, barang-barang tersebut seperti telepon seluler (HP), pakaian, tas, sabit, celana panjang, karung berisi rumput, hingga selembar sajadah yang sudah dalam posisi tergelar, ditemukan tergeletak tanpa tuan hanya berjarak sekitar dua meter dari bibir sungai.
Tim Gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Kuningan, TNI, POLRI, UPT Damkar, Tagana, relawan, hingga masyarakat setempat langsung diterjunkan untuk menyusur aliran sungai dari titik nol penemuan barang ke arah hilir. Namun, setelah upaya pencarian darat dan air selama tiga hari berturut-turut yang selalu dihentikan jelang malam karena faktor cuaca dan jarak pandang, tanda-tanda keberadaan korban tak kunjung ditemukan.
Berdasarkan hasil koordinasi serta evaluasi antara pihak kepolisian, aparat desa, dan keluarga korban pada hari Selasa (5/5/2026), operasi SAR air resmi ditunda. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan kuat.
“Memang kalau kita lihat dari kejadian pertama dan kondisi di lapangan, sungai tersebut cukup kecil, tidak terlalu dalam, dan airnya juga tidak terlalu deras. Jadi kemungkinan besar korban tidak tenggelam. Hilang iya, tapi kemungkinan tidak tenggelam,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana saat dikonfirmasi Selasa (5/5/2026) malam.
Lebih lanjut, Indra Bayu memaparkan bahwa dengan ditangguhkannya proses Search and Rescue (SAR) secara fisik, langkah selanjutnya adalah mendalami berbagai laporan dan temuan di tempat kejadian perkara (TKP). Di tengah pencarian, berbagai isu liar sempat beredar di kalangan masyarakat, mulai dari dugaan korban sedang memancing hingga isu supranatural seperti kesurupan.
Namun, petugas menegaskan agar masyarakat dan pihak keluarga tetap berpegang pada fakta di lapangan dan rilis resmi kepolisian. Terlebih, barang bukti seperti HP korban tertinggal di lokasi kejadian, yang saat ini tengah didalami secara forensik oleh Polsek setempat guna melacak jejak terakhir korban.
“Kita sudah berkoordinasi dengan kepolisian dan pihak-pihak terkait. Sementara pencarian fisik dihentikan dulu berdasarkan kesepakatan keluarga. Kita masih menunggu informasi lebih lanjut dari investigasi pihak kepolisian. Nanti kita lihat lagi situasinya seperti apa,” pungkas IBE, sapaannya.
Untuk sementara waktu, Posko BPBD Kabupaten Kuningan menghimbau agar masyarakat sekitar tetap berhati-hati dan tidak melakukan tindakan pencarian sendiri di luar instruksi dan koordinasi petugas demi alasan keselamatan. Kebutuhan pengerahan kembali Tim SAR baru akan dilakukan apabila terdapat informasi atau temuan baru dari hasil penyelidikan polisi. (Nars)





















