KUNINGAN – Prakiraan awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai masuknya musim kemarau di wilayah Jawa Barat, termasuk Kabupaten Kuningan, pada bulan Mei 2026 dilaporkan mengalami pergeseran.
Hingga memasuki awal Juni, intensitas hujan terpantau masih kerap mengguyur wilayah di kaki Gunung Ciremai ini akibat dinamika atmosfer yang sangat labil. Pergeseran awal musim yang tidak sesuai prediksi tersebut memicu tantangan baru di lapangan, terutama bagi pemangku kebijakan publik dan pemeliharaan ketahanan pangan daerah.
- Kebakaran Kandang Ayam di Nusaherang, Kerugian Ditaksir Rp120 Juta
- Prakiraan BMKG Meleset? Ini Penyebab Kemarau Kuningan 2026 Tertunda dan Jadwal Terbarunya
- Tingkatkan Taraf Ekonomi Desa, Wabup Kuningan Dorong Inovasi Olahan Buah Kesemek di Gunung Sirah
- Sensasi Bersantap Romantis di Bawah Gemerlap “City Light”, The Icon Kuningan Rilis Paket “Love in the Sky Dining”
- PNM Tanam 29.000 Pohon, Perluas Pemberdayaan dari Sandang hingga Lingkungan
Berdasarkan analisis klimatologis terbaru, terdapat beberapa faktor utama regional dan lokal yang menyebabkan awan hujan masih betah bertahan di langit Kuningan. Faktor pertama adalah aktifnya gelombang ekuatorial seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) bersama gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby yang melintasi wilayah Indonesia.
Aktivitas gelombang ini menyuplai massa uap air secara masif, sehingga memicu terbentuknya awan konvektif yang mendatangkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Selain faktor gelombang atmosfer, anomali suhu muka laut yang hangat di perairan sekitar Pulau Jawa, seperti Laut Jawa dan Samudra Hindia bagian selatan, juga turut memperpanjang proses penguapan tinggi yang menjadi bahan bakar utama pembentukan hujan.
Kondisi ini diperkuat oleh efek topografi lokal berupa pengaruh orografis Gunung Ciremai. Letak geografis Kuningan di dataran tinggi menciptakan mikroklimat tersendiri, di mana angin yang membawa uap air dipaksa naik oleh kontur pegunungan, mengalami kondensasi, dan jatuh sebagai hujan lokal meskipun wilayah pesisir utara atau Pantura cenderung sudah mulai kering.
Di sisi lain, terdapat pula indikasi fenomena kemarau basah yang dipicu oleh peralihan iklim global, ditandai dengan pelemahan El Niño yang cepat menuju kondisi netral sehingga curah hujan tetap berada di atas batas normal.
Akibat masa transisi atau pancaroba yang merambat lebih panjang ini, BMKG melakukan pemutakhiran terhadap linimasa datangnya musim kering tahun ini. Musim kemarau yang sesungguhnya di Kabupaten Kuningan diperkirakan baru akan benar-benar terasa pada pertengahan hingga akhir Juni 2026.
Sementara itu, puncak musim kemarau diproyeksikan ikut bergeser mundur ke periode Agustus hingga September, seiring dengan estimasi semakin menguatnya hembusan Angin Monsun Australia atau angin timuran yang membawa massa udara bersifat kering dan dingin ke wilayah hilir. (Nars/dari berbagai sumber)














