

KHAZANAH — Bulan Rabiul Awal selalu memiliki ruang istimewa di hati umat Islam seluruh dunia. Di bulan inilah, sejarah peradaban manusia mencatat sebuah peristiwa agung: lahirnya penutup para nabi, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kelahiran beliau bukanlah sekadar peristiwa sejarah biasa, melainkan tonggak awal turunnya cahaya dan rahmat bagi alam semesta yang kala itu diselimuti kegelapan jahiliyah.
Momen Rabiul Awal menjadi pengingat yang tepat bagi umat Muslim untuk kembali menelusuri rekam jejak (sirah nabawiyah) dan menggali pesan-pesan universal yang dibawa oleh Sang Rasul.
- Ditemui Anak Buah Prabowo, Petani Padarek Sumringah Harga Gabah Sedang Naik
- Kalahkan Kharisma Bandung, Tim Voli Wahana Ajaib Kuningan Tembus Semifinal Kejurda U-19 Jabar dan Bidik Tiket Kejurnas
- Memaknai Rabiul Awal: Teladan Universal Sang Rahmatan Lil ‘Alamin dan Cara Membuktikan Cinta Kepadanya
- Pematokan Hari Ini, Rehabilitasi Jalan Winduhaji-Lebakwangi Senilai Rp 22 Miliar Resmi Dimulai
- Mencak-Mencak Marahi Bupati, Warga Kuningan Murka Tugu Bola Dunia Diganti Kuda: “Jalan Rusak, Uang Rakyat Malah Dibuang!”
Utusan Penjuru Zaman Menurut Surah As-Saba’
Eksistensi dan misi agung Nabi Muhammad SAW telah ditegaskan secara gamblang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an. Salah satu penegasannya terdapat pada Surah As-Saba’ ayat 28.
Dalam ayat tersebut, Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Ayat ini membongkar paradigma lama dan mendobrak batas geografis, suku, serta ras. Rasulullah SAW tidak diutus hanya untuk bangsa Arab semata, melainkan untuk seluruh umat manusia di lintas generasi hingga akhir zaman. Risalah yang beliau bawa berdimensi universal, menembus sekat-sekat perbedaan untuk menyatukan umat dalam tauhid.
Menebar Kasih sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin
Sifat universalitas ajaran Islam tersebut tercermin sempurna dalam kepribadian Rasulullah SAW sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin—sebuah anugerah dan kasih sayang bagi seluruh alam.Dalam kesehariannya, kepribadian Rasulullah dipenuhi dengan kelembutan, sikap pemaaf, dan keadilan yang mutlak. Beliau memuliakan perempuan yang sebelumnya direndahkan, menyayangi anak yatim, menghormati hak-hak tawanan, hingga menjaga kelestarian lingkungan dan hewan.
Rahmat beliau bahkan tidak hanya dirasakan oleh umat Muslim saja. Sejarah mencatat bagaimana beliau bersikap adil dan melindungi hak-hak mereka yang berbeda keyakinan di Madinah. Hal ini menjadi bukti autentik bahwa Islam, melalui sosok pembawanya, adalah agama yang mengayomi dan merawat kedamaian.
Langkah Nyata Membuktikan Cinta kepada Rasulullah
Memasuki bulan kelahiran beliau, sebuah pertanyaan reflektif pantas dikedepankan: bagaimana semestinya kita membumikan cinta (mahabbah) kepada sang kekasih Allah di era modern ini? Mengaku cinta tentu membutuhkan pembuktian yang nyata.Berikut adalah tiga cara utama untuk menunjukkan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW:
1. Menghidupkan Sunnah dalam Keseharian
Cinta dibuktikan dengan ketaatan meniru sosok yang dicintai. Menghidupkan sunnah bukan berarti hanya berfokus pada ibadah ritual, tetapi juga menjadikan cara hidup Nabi sebagai pedoman sehari-hari; mulai dari adab makan, adab menjaga kebersihan, hingga etika dalam bermuamalah dan bergaul dengan sesama manusia.
2. Memperbanyak Lantunan Shalawat
Menjadikan lisan senantiasa basah dengan shalawat adalah bentuk penghormatan sekaligus doa. Allah SWT dan para malaikat-Nya pun bershalawat kepada Nabi. Dengan memperbanyak shalawat, seorang Muslim memupuk harap agar kelak mendapatkan syafaat (pertolongan) beliau di hari kiamat.
3. Meneladani Akhlak Mulia di Tengah Masyarakat
Cara tertinggi mencintai Nabi adalah dengan mempraktikkan sifat-sifat utamanya dalam kehidupan nyata. Menerapkan sifat Siddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (komunikatif dan menyampaikan kebaikan), serta Fathanah (cerdas) dalam profesi, studi, maupun kehidupan sosial kita saat ini.
Cinta kepada Nabi Muhammad SAW semestinya bukan sekadar euforia perayaan yang dirayakan setahun sekali. Lebih dari itu, cinta tersebut harus menjadi energi yang menggerakkan kita untuk terus mewariskan kebaikan, agar wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin benar-benar nyata dirasakan oleh dunia. (NARS)



