

BANDUNG – Nasib penyelenggaraan MTQ 2027 di Jawa Barat akhirnya menemui titik terang setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi mengambil alih status tuan rumah dari Kabupaten Garut. Keputusan taktis ini diambil langsung oleh Gubernur Dedi Mulyadi sebagai jalan keluar atas kondisi ruang fiskal dan keterbatasan anggaran yang tengah membelit kabupaten tersebut.
Manuver pemerintah provinsi ini menuai dukungan penuh dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat. Anggota dewan Tina Wiryawati mengungkapkan, defisit anggaran di satu wilayah administratif tidak boleh menjadi alasan terhambatnya agenda strategis yang menyangkut hajat hidup keagamaan serta sosial masyarakat luas.
- Libatkan Pekerja Lokal, Puluhan SD di Kuningan Direvitalisasi dengan Dana Rp 45 Miliar
- Tanggapi Isu Moral Anggota Dewan, Ketua DPRD Kuningan: Harus Berdasar Data dan Bukti Hukum
- Arief Maoshul Angkat Bicara Soal Kehutanan Sosial di Kuningan
- Uu Ruzhanul Ulum Bangkitkan Militansi Kader PPP Kuningan: “Jangan Biarkan Partai Ini Meredup!”
- Hadiri Musancab PPP Kuningan, Arief Maoshul Tekankan Kerja Keras Kader untuk Rebut Kembali Kejayaan
Legislator dari Dapil Jabar 13 ini memandang perhelatan tersebut bukan sekadar arena adu kecakapan melantunkan ayat suci bagi para peserta kontingen. Kegiatan dua tahunan ini merupakan pilar utama dalam mencetak generasi muda yang berakhlak sekaligus memperkuat fondasi spiritual masyarakat di tengah gempuran zaman modern.
“Ajang ini juga selalu terbukti ampuh menjadi medium silaturahmi akbar yang merekatkan persaudaraan warga dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat,” kata Legislator yang juga menjabat sebagai Wasekjen DPP Partai Gerindra ini.
Melalui skema pengambilalihan pendanaan ini, imbuhnya, kelancaran acara dapat terjamin tanpa harus memaksa pemerintah daerah tujuan awal menanggung beban berat atau mengorbankan program prioritas mereka.
Beralihnya kendali penyelenggaraan ke tingkat provinsi diharapkan berbanding lurus dengan peningkatan mutu kompetisi yang akan datang. Seluruh kepala daerah diinstruksikan untuk tidak mengendurkan semangat dan tetap memfokuskan sumber daya mereka pada pembinaan intensif para duta daerah di wilayahnya masing-masing.
Pemolesan bakat para pembaca kitab suci ini disoroti secara khusus agar tidak lagi menggunakan pola instan yang hanya dikerjakan menjelang musim perlombaan. Sistem pelatihan harus dikelola menjadi program berkesinambungan sepanjang tahun agar kualitas perwakilan daerah terus terasah dan menghasilkan juara yang benar-benar matang.
Guna mendukung kemegahan wajah baru acara tersebut skema pemusatan perayaan telah dipersiapkan di titik-titik ikonik ibu kota provinsi. Seremoni pembukaan rencananya akan mengambil tempat di pelataran Gedung Sate Kota Bandung sedangkan penutupan akan diselenggarakan di Masjid Raya Al Jabbar sebagai puncak perayaan syiar Islam yang kolaboratif. (Nars)



