

KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan mulai merintis lahan pengembangan bawang putih sebagai langkah strategis mendukung kemandirian pangan nasional. Keseriusan ini memantik perhatian Kapolda Jawa Barat Irjen Pol P. Rismanto yang langsung turun memantau lokasi calon areal tanam di Desa Karangsari, Kecamatan Darma, pada Selasa (11/8/2026).
Kunjungan jenderal bintang dua tersebut turut didampingi oleh sejumlah tokoh penting lintas sektor demi memastikan kesiapan lahan secara langsung.
- Memaknai QS Yunus 58 dalam Syukur Kemerdekaan RI dan Maulid Nabi
- Pariwisata Kuningan Siap-siap Makin Maju, PHRI dan Kampus UBHI Jalin Kerjasama
- Kuningan Bangun Sentra Bawang Putih, Kapolda Jabar Pantau Langsung
- Hari Pramuka 2026: Saatnya Gerakan Kepanduan Turun Tangan Jaga Ketahanan Pangan dan Sejarah Panjangnya di Indonesia
- Kebakaran TPSA Ciniru Kuningan Meluas Lima Hektare, Dua Ratus Personel Dikerahkan
Hadir dalam peninjauan itu Kapolres Kuningan AKBP Bellen Anggara Pratama, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kuningan Wahyu Hidayah, anggota DPR RI Rokhmat Ardiyan, hingga pemilik kawasan riset Rumah Tani Nusantara Bahtiar.
Dalam arahannya, Rismanto menerangkan, ketahanan pangan harus ditopang secara serius oleh kekuatan produksi dari setiap daerah. ” Komoditas hortikultura yang bernilai strategis tinggi sangat membutuhkan sinergi berbagai pihak agar pasokan dalam negeri terjaga sekaligus mampu menyejahterakan para petani lokal,” sebutnya.
Terkait teknis pelaksanaan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan usulan lahan seluas 17 hektare. Namun pemerintah daerah sepakat untuk tidak terburu-buru mengejar kuantitas luasan lahan melainkan memulai uji coba secara bertahap lewat area percontohan seluas 0,2 hektare di kawasan riset Rumah Tani Nusantara.
Area percontohan ini rencananya akan diresmikan melalui Gerakan Tanam Bawang Putih pada 19 Agustus mendatang sebagai laboratorium lapangan tingkat awal. Lahan kecil tersebut difokuskan untuk meneliti respons tanaman terhadap cuaca setempat, efisiensi teknologi budidaya, hingga menghitung tingkat keuntungan riil yang akan didapatkan oleh petani nantinya.
Apabila hasil evaluasi dari demplot ini terbukti menguntungkan dan secara teknis berhasil, barulah sisa usulan lahan garapan akan dieksekusi secara bertahap. Sebaran lahan belasan hektare itu nantinya mencakup perluasan di kawasan Rumah Tani Nusantara, Pasir Batang, Desa Puncak, serta kawasan Gunungkeling di Kecamatan Cigugur.
Wahyu menyampaikan, membangun kemandirian komoditas ini tidak cukup hanya dengan menyebar benih dan memperluas areal tanam tanpa arah yang jelas.
Kolaborasi lintas instansi dari pemerintah, kepolisian, legislatif, hingga swasta ini dirancang untuk membentuk ekosistem pertanian terpadu yang menjamin ketersediaan sarana produksi, penguasaan teknologi budidaya, hingga kepastian penyerapan hasil panen di pasar. (Nars)



