
KUNINGAN — Peralihan musim dari kemarau ke musim hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Kuningan dalam beberapa pekan terakhir langsung memicu sejumlah kerawanan kebencanaan. Mulai dari ancaman pohon tumbang hingga genangan banjir dan longsor mulai dikeluhkan oleh masyarakat.Kondisi tersebut terlihat nyata pada Kamis (29/10).
Hujan dengan intensitas cukup deras yang mengguyur kawasan hulu langsung memicu peningkatan signifikan pada debit air Sungai Cisanggarung.
- Musim Hujan Tiba, Sejumlah Wilayah Kuningan Dihantui Bencana Pohon Tumbang dan Banjir
- Jaga Tradisi Kawin Cai di Babakanmulya, Sri Laelasari Tekankan Pentingnya Merawat Mata Air demi Masa Depan
- Upacara Adat Kawin Cai Balong Dalem Masuk Kalender Wisata, Ini Kata Plt Kadisporapar Kuningan
- WASPADA PENIPUAN! Nama Anggota DPRD Kuningan Susanto Dicatut Pelaku untuk Minta Uang dan Transaksi Fiktif
- Menjaga Keharmonisan Alam dan Leluhur: Menelisik Filosofi di Balik Tradisi Kawin Cai Kuningan
Permukaan aliran sungai terpantau mengalami kenaikan drastis. Aliran air tampak keruh dan membawa material sampah, mulai dari dedaunan, ranting pohon, hingga sampah plastik rumah tangga dalam jumlah yang mengkhawatirkan.
Deni, seorang warga Desa Kadugede yang tinggal di sekitar bantaran sungai, mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menilai tumpukan sampah yang terbawa arus dapat berpotensi menyumbat aliran sungai dan memicu banjir limpasan ke permukiman warga.
“Sebagai warga yang berdiam di pinggir aliran sungai, kami tentu khawatir luapan air sungai ini meluber dan menjadi banjir jika sampah-sampah terus menyumbat aliran air,” ujar Deni, Kamis (29/10).
Selain ancaman luapan Sungai Cisanggarung, genangan air juga terpantau merendam sejumlah titik badan jalan di sekitar Desa Bayuning. Genangan tersebut terjadi akibat sistem drainase atau saluran air di pinggir jalan mengalami penyumbatan sehingga tidak mampu menampung volume air hujan.Kondisi ini praktis mengganggu aktivitas lalu lintas.
Sejumlah pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor, tampak kesulitan dan harus berhati-hati saat melintas karena ketinggian air di badan jalan cukup membahayakan kendaraan kecil.
“Kalau sudah begini, siapa yang bertanggung jawab?” keluh salah seorang warga setempat dalam rekaman video amatir yang beredar luas di media sosial saat memperlihatkan kondisi jalan terendam banjir.
Mengingat potensi cuaca ekstrem yang masih akan berlangsung, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap potensi bencana hidrometeorologi, serta bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah ke aliran sungai maupun saluran air. (NARS)
