
KUNINGAN — Di bawah naungan rindangnya pepohonan kaki Gunung Ciremai, alunan doa dan riuh tatanan adat membaur dengan gemercik beningnya air Tirtayatra Balong Dalem, Desa Babakanmulya, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Di tempat sakral ini, masyarakat setempat kembali menggelar sebuah ritual warisan leluhur yang sarat makna filosofis dan nilai spiritual, yakni tradisi Kawin Cai.

Bagi warga setempat, Kawin Cai bukan sekadar prosesi seremonial tahunan. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan cerminan nyata dari jalan hidup masyarakat Sunda dalam merawat keharmonisan hubungan antara manusia, alam semesta, dan Sang Maha Pencipta.
- Menjaga Keharmonisan Alam dan Leluhur: Menelisik Filosofi di Balik Tradisi Kawin Cai Kuningan
- Kades di Kuningan Sikat Setengah Miliar Dana Desa untuk Utang Pribadi, Polisi Bongkar Modus Liciknya
- Polres Kuningan Ungkap 7 Kasus Narkoba Selama Oktober 2026, 16 Tersangka Diamankan
- Polres Kuningan Tegas! Pedagang Miras Ilegal Berkedok Usaha Lain Izin Usahanya Bisa Dicabut
- PLN ULP Kuningan Lakukan Pemadaman Terencana di Desa Pinara dan Gunung Manik, Kamis Siang Ini
Jejak Sejarah dan Legenda Metamorfosis
Berakar dari era kepercayaan animisme dan dinamisme di kawasan sakral Tirtayatra Balong Dalem, tradisi Kawin Cai menyimpan mitos dan tuturan sejarah lokal yang mendalam. Kisah ini bermula dari perjalanan spiritual seorang petapa bernama Resi Makandria dari Cikepuh (kini Cibuluh, Desa Maniskidul) yang tengah berikhtiar mencari pencerahan lahir batin serta keturunan.
Dalam pertapaannya, sang resi sempat tersentak oleh percakapan sepasang burung, yang menyinggung hasrat besarnya untuk memiliki buah hati. Perjalanan batin tersebut kemudian membawa Langkah Resi Makandria menuju Kerajaan Kendan untuk menghadap Sang Resi Guru Manikmaya.
Melalui perjalanan batin dan bimbingan ilapat, Resi Makandria dipertemukan dengan putri sang guru, Po Aksari Jabung. Dalam kisah sejarah lokal tersebut, sang putri hadir dalam wujud kidang kencana (kijang kencana), sementara Resi Makandria berubah wujud menjadi kebo bule (kerbau putih).
Setelah menyatukan rasa dan menyelaraskan ikatan batin dalam wujud tersebut, keduanya kembali menjelma menjadi manusia utuh dan dikaruniai seorang putri bernama Nyi Manawati atau Dewi Ciptaresmi.
Peristiwa magis dan sakral ini diabadikan dalam jejak tapak batu di area bagian barat kolam, tidak jauh dari sumber mata air Balong Dalem hingga hari ini.
Wujud Syukur dan Penghormatan Terhadap Sumber Kehidupan
Kisah metamorfosis dan perjalanan spiritual para leluhur inilah yang terus dihidupkan secara turun-temurun oleh warga Desa Babakanmulya. Upacara adat Kawin Cai dihadiri oleh para pemangku adat, tokoh masyarakat, kepala desa dari tujuh desa pemanfaat air, hingga jajaran pemerintah daerah.
Rangkaian prosesi adat ditandai dengan penyerahan tumpeng dan hasil bumi sebagai simbol ungkapan rasa syukur atas limpahan rezeki, keberkahan, serta kelancaran aliran air yang menghidupi lahan-lahan pertanian warga.
Tradisi ini menegaskan filosofi penting bahwa air adalah sumber kehidupan (sumber air soko katentreman) yang wajib dijaga kebersihannya dan dihormati keberadaannya.
Benteng Budaya dan Konservasi Ekologis
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, pelaksanaan tradisi Kawin Cai memegang peranan vital sebagai benteng pertahanan budaya. Peringatan ini menjadi ruang edukasi bagi generasi muda agar tidak kehilangan akar sejarah serta tetap memegang teguh kearifan lokal.
Melalui ritus Kawin Cai, masyarakat Desa Babakanmulya membuktikan bahwa manusia dan alam dapat berdampingan dalam ikatan batin yang harmonis. Air dan tanah tak hanya dipandang sebagai komoditas penghidupan semata, tetapi juga simbol abadi dari cinta, keberlanjutan hidup, dan penghormatan terhadap alam sekitar.
* **Kata Kunci (Keywords):** **
