
KUNINGAN – Seorang ibu rumah tangga warga Desa Cimenga, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Entin membuktikan bahwa kreativitas dan ketekunan bisa mengubah hal sederhana menjadi peluang emas. Sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat, Entin tidak hanya membina anggotanya dalam kegiatan pertanian, tetapi juga membawa inovasi yang kini mulai dikenal luas, yaitu Opal singkatan dari Olahan Buah Pala.
- Ngabihi se-Kecamatan Sindangagung Gelar Rakor Bulanan, Siap Sukseskan Deklarasi Aslinmas Jabar
- Marak Kos-kosan “Nakal” di Kuningan, Satpol PP Tegaskan Penertiban Terus Berjalan
- Disdikbud Kuningan Pastikan Perbaikan Ruang Belajar SDN 3 Cihirup Segera Dilaksanakan
- Tinjau Pasca Karhutla Ciremai, KDM Murka Lihat Tambang Batu Beroperasi Lagi di Desa Padabeunghar
- Genjot Inklusi Pasar Modal, OJK Targetkan Pertumbuhan Reksa Dana Syariah di Ciayumajakuning
Buah pala sudah lama menjadi salah satu rempah khas Indonesia, termasuk di Kuningan. Selama ini, para petani menjual pala dalam bentuk biji kering. Sementara kulit dan daging buahnya jarang dimanfaatkan, bahkan dijual murah hanya sekitar dua ribu rupiah per kilogram dalam kondisi kering.
Melihat potensi itu, Entin tergerak untuk mengolah bagian buah pala yang sering terbuang tersebut menjadi aneka kudapan manis.
Bermodalkan mesin giling sederhana, ia mulai memproduksi permen dan wajit dari daging pala. Hasil olahan ini kemudian diberi nama Opal. “Awalnya masyarakat tidak terlalu tertarik, karena mereka tahunya buah pala hanya rempah dan memang jarang yang mengolah daging buah pala menjadi makanan,” ujar Entin saat dikonfirmasi di lokasi usaha KWT yang dibinanya.
Meski respon awal kurang menggembirakan, semangat Entin tak pernah surut. Ia terus memperbaiki rasa, kemasan, dan memperluas jangkauan pemasaran. Perlahan, Opal mulai dikenal sebagai oleh-oleh khas Kuningan yang unik. Kepercayaan konsumen semakin meningkat setelah produk ini mengantongi sertifikat halal dan legalitas PIRT (Produk Industri Rumah Tangga).
“Saya selalu berusaha menjaga kualitas. Opal punya daya tahan hingga tiga bulan, tapi kalau ada produk yang diretur dan sudah tidak layak konsumsi, pasti kami buang dan ganti dengan yang baru,” tegasnya.
Kini, Opal sudah bisa ditemui di berbagai pusat oleh-oleh di Kuningan. Keberhasilan ini tidak hanya membawa keuntungan bagi Ibu Entin, tetapi juga membuka peluang usaha bagi warga sekitar. Dari kulit pala yang dulunya dianggap limbah, lahirlah produk bernilai tinggi yang mengangkat nama Desa Cimenga di kancah kuliner lokal. [UN]
