KUNINGAN – Menanggapi isu tudingan kerusakan lingkungan akibat alat berat di lereng Ciremai, Puspita Cipta Group mengungkapkan alasan yang mereka hadapi di lapangan. Pembukaan lahan yang masif tersebut diklaim sebagai upaya penyelamatan lahan tidur dari invasi gulma Kaliandra untuk diubah menjadi Arboretum atau hutan koleksi.
- Punya Potensi Puluhan Ribu Anggota, Pengurus IKA STEMGA Kuningan Resmi Dilantik di Pendopo
- Akui Fasilitas Sekolah Belum Merata, Bupati Kuningan Sampaikan Pesan Ini di Hardiknas 2026
- Akhirnya Terjawab, Kisruh Dana Taspen PPPK Guru Kuningan Telah Diselesaikan Disdikbud
- Mayday 2026: KSPSI Kuningan Desak Buruh Berani Lapor Praktik Upah di Bawah Standar
- Refleksi Milad Ke-94 Pemuda Muhammadiyah untuk indonesia jaya
Tim Agro perusahaan, Oyut, menceritakan bahwa upaya penghijauan yang dilakukan pihaknya sebenarnya sudah dimulai sejak 2012 hingga 2016 dengan menanam Jati dan Pinus.
Namun, upaya penanaman manual kembali dilakukan pada 2021 untuk kebun buah, dan hasilnya gagal total.
“Tahun 2021 kami coba tanam Alpukat dan Durian secara manual. Tapi bibit-bibit itu mati kalah bersaing dengan Kaliandra yang tumbuh sangat cepat. Akar Kaliandra ini sulit dibasmi kalau hanya pakai cangkul,” jelas Heri.
Atas dasar itulah, manajemen memutuskan menggunakan alat berat pada akhir 2023. Tujuannya bukan untuk merusak struktur tanah, melainkan membersihkan akar gulma invasif agar tanaman produktif bisa tumbuh.
Nuki Nurkholis menambahkan, visi besar dari proyek ini adalah menciptakan Arboretum. Kawasan ini menurutnya nantinya akan menjadi laboratorium alam yang berisi koleksi tanaman endemik seperti Damar, Jamuju, dan Saninten, yang dipadukan dengan tanaman buah.
“Kami ingin membuat kawasan konservasi yang juga punya nilai edukasi dan rekreasi. Jadi bukan sekadar menebang, tapi kami mengganti gulma dengan pohon yang bernilai ekologis tinggi,” ujar Nuki.
Untuk menjaga stabilitas tanah selama proses pembukaan lahan, pihak pengelola juga telah memasang “U-ditch” (saluran air portabel) guna mencegah aliran air liar yang dapat memicu erosi ke lahan warga di bawahnya. (Nars)























