
KUNINGAN – Manajemen Puspita Cipta Group akhirnya buka suara terkait polemik pembukaan lahan di kawasan Palutungan yang sempat viral dan disidak oleh Bupati Kuningan. Dalam klarifikasinya, pihak manajemen secara tegas membantah bahwa pembangunan jalan selebar truk di lokasi tersebut diperuntukkan bagi sirkuit balap.
Nuki Nurkholis, perwakilan divisi Agro Puspita Cipta Group, menjelaskan bahwa kontur tanah di lokasi tersebut sangat curam dan berbahaya, sehingga secara teknis tidak memungkinkan untuk dijadikan lintasan balap.
- Bermalam Beralaskan Abu, Tim Terakhir Relawan MPA Masih Mencari Sisa Titik Api
- Bikin Warga Makin Nyaman, KUA Darma Bersolek Total, Ini Penampakannya Pasca Renovasi
- Pelajar SMPN 2 Kuningan Dibekali Literasi Digital Lewat Program JURAGAN PWI Kuningan
- Siap-siap Tilang! Operasi Patuh Lodaya 2026 di Kuningan Incar Pemotor Knalpot Brong hingga Pengendara Lawan Arus
- Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar Temui Massa Pro-Kontra MBG, Ini yang Disampaikan
”Itu bukan sirkuit. Medannya terjal, sangat berbahaya kalau dipaksakan. Jalan itu kami buat semata-mata untuk akses distribusi bibit dan perawatan tanaman, karena lokasi yang sulit dijangkau,” tegas Nuki di hadapan awak media.
Terkait penggunaan alat berat (excavator) yang menjadi sorotan publik dan pemerintah daerah, Nuki menyatakan pihaknya kooperatif. Menyusul inspeksi mendadak (sidak) dan instruksi Bupati Kuningan untuk menghentikan aktivitas alat berat, manajemen memastikan telah menarik mundur armada tersebut.
”Kami patuh pada arahan Pak Bupati. Alat berat sudah kami tarik. Ke depannya, proses penanaman akan kami upayakan menggunakan cara manual atau padat karya, meskipun kami akui tantangannya akan jauh lebih berat dan memakan waktu,” tambahnya.
Pihak manajemen juga meluruskan bahwa lahan tersebut adalah milik pribadi H. Rahmat Ardian yang rencananya akan dikembangkan menjadi kawasan hijau produktif, bukan fasilitas olahraga ekstrem seperti yang diisukan di masyarakat. (Nars)
