KUNINGAN – Koordinator Paguyuban Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Kuningan, H. Udin Kusnedi, menegaskan komitmen seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayahnya untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku lokal.
Ia memastikan, setiap rupiah anggaran program MBG harus berputar di Kuningan untuk mendongkrak ekonomi masyarakat setempat.
- Refleksi Milad Ke-94 Pemuda Muhammadiyah untuk indonesia jaya
- Karya Bakti Kodim Kuningan: Sinergi TNI dan Warga Kebut Pembangunan Jalan Cimenga
- Comeback Gemilang di Lampung Persib Bandung Bungkam Bhayangkara FC 4-2 dan Rebut Kembali Puncak Klasemen
- Review Babak Pertama Persib vs Bhayangkara FC, Serangan Balik Mematikan The Guardian Bikin Maung Bandung Tertinggal 1-2
- Menagih Etos Kerja Pasca Pelantikan 4 JPT Pratama di Cadas Poleng
Dalam keterangannya kepada awak media, Udin menjelaskan bahwa seluruh SPPG diwajibkan menyerap produk pertanian dan UMKM lokal. Pembelian dari luar daerah hanya diperbolehkan untuk komoditas yang memang tidak diproduksi atau tidak tersedia di Kabupaten Kuningan.
”Seluruh SPPG itu semuanya pasti menggunakan bahan baku dari lokal, dari Kabupaten Kuningan. Kecuali yang tidak ada di sini, itu pasti beli dari luar. Contohnya buah-buahan seperti anggur, pir, apel, atau jeruk yang memang tidak kita hasilkan sendiri. Tapi kalau tahu, tempe, sayuran yang ada di sini, wajib beli dari lokal,” tegas Udin.
Pria yang akrab disapa Jiud ini memaparkan dampak nyata program MBG terhadap geliat ekonomi daerah. Ia mencontohkan para produsen tahu dan tempe yang kini kewalahan memenuhi pesanan karena volume permintaan melonjak drastis.
“Tanyakan ke produsen tahu atau tempe. Produksi mereka meningkat pesat, dari yang tadinya hanya mengolah 1 kuintal kedelai, sekarang bisa 4 sampai 5 kuintal sehari. Ini otomatis menaikkan omzet, pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja di sektor UMKM,” paparnya.
Terkait mekanisme belanja, Udin meluruskan bahwa SPPG tidak bisa sepenuhnya berbelanja eceran di pasar tradisional karena kebutuhan yang sangat besar (ribuan porsi per hari). SPPG harus bermitra langsung dengan produsen atau pabrik untuk menjamin ketersediaan stok yang kontinyu.
“Kita tidak bisa beli tahu tempe dadakan di pasar untuk ribuan porsi, barangnya pasti kurang. Makanya kita langsung ke produsen agar suplai aman. Jadi jangan dilihat dari satu sudut pandang saja, lihat efek dominonya ke produsen lokal,” jelasnya.
Udin juga melontarkan tantangan terbuka. Ia mengaku siap menindak tegas jika ditemukan ada pengelola Dapur MBG yang sengaja membeli bahan baku dari luar daerah padahal barang tersebut tersedia melimpah di Kuningan.
“Saya tantang, tunjukkan MBG mana yang tidak membeli bahan baku pangan lokal padahal barangnya ada. Saya siap datangi, saya siap durder (tegur keras) dengan pengelolanya. Kita harus sepakat memberdayakan potensi lokal,” tantang Udin dengan nada tinggi.
Terpisah, Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, pada Rakor antara Satgas Percepatan Pelaksanaan Program MBG Kabupaten Kuningan dengan Pengelola Dapur MBG, menuntut dapur MBG agar bisa memberdayakan potensi bahan baku lokal.
“Tolong kepada Dapur MBG agar memakai bahan baku lokal agar meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat. Pekerjaannya juga harus prioritaskan warga lokal (sekitar),” ungkapnya. (Nars)

























