KUNINGAN — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University melakukan gebrakan dengan mengakselerasi digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah pedesaan, tepatnya di Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.
Program pengabdian masyarakat yang berlangsung pada periode Juli hingga Agustus 2026 ini bertujuan untuk mendongkrak akses pemasaran, mempermudah transaksi, serta meningkatkan visibilitas usaha warga desa di tengah pesatnya era digital.
- Akselerasi UMKM Kuningan Go Digital, Mahasiswa IPB Fasilitasi QRIS dan Google Maps
- Berburu Motor Murah Mulai Rp 1 Jutaan di Lelang Kejari Kuningan, Begini Jaminan Pengurusan STNK-nya
- Bersama Mahasiswa KKN Unisa, Politisi Gerindra Sri Laelasari Gencarkan Edukasi Cegah HIV dan Lindungi Pelajar Kuningan
- Siswa SD Desa Puncak Mulai Kenal AI, Mahasiswa IPB University Gelar Edukasi Digital hingga Keuangan
- Sisi Lain Viral Wisata Curug Bebedahan Kuningan: Berpotensi Besar, Namun Minim Anggaran
Pendekatan yang dilakukan oleh para mahasiswa ini terbilang komprehensif dan tepat sasaran karena diawali dengan tahapan pemetaan secara langsung di enam dusun, yakni Ciwuni I, Ciwuni II, Karang Anyar, Pakembaran, Mulyaasih I, dan Mulyaasih II pada 9–17 Juli 2026.
Dari total 45 pelaku UMKM yang berhasil didata, sebanyak 18 UMKM dari sektor pengolahan makanan, warung, hingga bengkel dipilih untuk mendapatkan pendampingan intensif secara door-to-door.
Berdasarkan hasil identifikasi di lapangan, tim KKNT IPB menyuntikkan solusi teknologi yang dirancang khusus sesuai dengan skala dan kebutuhan masing-masing pelaku usaha. Intervensi digital tersebut meliputi pendaftaran titik lokasi di Google Maps untuk 13 UMKM, aktivasi pembayaran nontunai via QRIS untuk 1 UMKM, pembuatan media promosi visual berupa banner dan video untuk 15 UMKM, hingga penyusunan katalog digital serta branding kemasan.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Asep Taryana, S.T.P., M.M., menegaskan bahwa kunci keberhasilan dan efektivitas program ini terletak pada metode pendampingan yang adaptif terhadap kondisi warga.
“Setiap UMKM memiliki tingkat kesiapan teknologi yang berbeda. Pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelaku usaha diharapkan dapat membantu mereka memanfaatkan teknologi digital secara lebih optimal dalam menjalankan usahanya,” jelas Dr. Asep.
Tidak berhenti pada pemberian fasilitas, tim mahasiswa juga mengawal program ini melalui tahap pemantauan dan evaluasi (monev) pada 3–6 Agustus 2026 guna memastikan keberlanjutan digitalisasi. Pada fase krusial ini, mahasiswa mengecek berjalannya penggunaan layanan digital sekaligus melatih para pelaku UMKM agar mampu mengelola serta memperbarui informasi bisnisnya secara mandiri.
Langkah konkret yang diinisiasi mahasiswa IPB ini langsung memberikan dampak positif bagi denyut ekonomi warga Desa Puncak. Para pelaku UMKM mengaku kini lokasi usahanya jauh lebih mudah ditemukan oleh pelanggan dari luar daerah dan mereka memiliki alternatif sistem pembayaran yang lebih praktis.
Pendampingan ini diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi UMKM pedesaan untuk terus naik kelas dan tangguh dalam beradaptasi dengan teknologi. (Nars)

