KUNINGAN – Di tepian kolam renang Hotel Purnama Mulia, Sabtu (11/4/2026), suasana riuh tidak seperti biasanya. Sebanyak 23 anak penyandang tuna netra dari berbagai wilayah di Kabupaten Kuningan berkumpul untuk satu tujuan sederhana: merasakan air.
Sebagian anak tampak mantap melangkah, sementara yang lain perlu dipandu oleh relawan. Begitu kaki mereka menyentuh air, tawa pecah. Bagi sebagian peserta, ini adalah pengalaman pertama mereka berada di kolam renang.
- Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan
- Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK
- Viral Kecelakaan Kuningan Hari Ini: Mobil Terbalik di Karangkancana, Mantan Camat Jadi Korban
- Kenang Jasa Guru dan Orangtua, Demonstran HMI Kuningan Tak Kuat Tahan Air Mata, Sebut Anggaran Pendidikan Selalu Jadi Bancakan
- Ditanya Transparansi Pengawasan Temuan BPK di Disdikbud, Ini Jawaban Wakil Ketua DPRD Kuningan Ujang Kosasih
Namun, di balik keriuhan itu, ada aktivitas yang unik. Sambil berenang, mereka saling melempar potongan ayat Al-Qur’an dalam permainan sambung ayat.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Rumah Sahabat Qur’an Kuningan – Netra Berkah Mandiri. Komunitas ini telah berjalan selama tiga tahun terakhir sebagai wadah belajar bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan penglihatan.Hj. Evi Sovia Marzuki, pengelola komunitas tersebut, tampak memerhatikan anak-anak asuhnya dari pinggir kolam.
Ia menceritakan bahwa perjalanan menghidupkan komunitas ini tidaklah mudah. Hingga saat ini, mereka belum memiliki donatur tetap dan bergerak secara swadaya.“Kami ingin mereka merasakan kebahagiaan yang sama seperti anak-anak lainnya,” kata Evi singkat.
Setiap akhir pekan, komunitas ini rutin menggelar kelas. Kegiatannya mulai dari belajar membaca huruf Braille, tahsin Al-Qur’an, hingga bermain musik hadroh. Menariknya, dari sepuluh pengajar yang ada, semuanya adalah penyandang tuna netra. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berbagi ilmu.
Siswa yang dibina pun beragam, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga mahasiswa. Meski memiliki program yang konsisten, Evi mengakui bahwa perhatian dari pemerintah daerah setempat masih sangat minim. Harapan untuk mendapatkan fasilitas pembinaan yang lebih layak masih sering ia suarakan.
Di tengah keterbatasan akses dari sektor publik, bantuan datang dari pihak swasta. Adrian Purnama, pemilik Hotel Purnama Mulia, memberikan izin bagi komunitas ini untuk menggunakan fasilitas hotel secara cuma-cuma.
Bagi Adrian, apa yang dilakukannya adalah bentuk tanggung jawab sosial sekaligus meneruskan nilai-nilai yang ditanamkan almarhum ayahnya, H. Acep Purnama. “Ini murni misi kemanusiaan, tidak ada maksud lain,” ungkap Adrian.
Bagi anak-anak ini, hari Sabtu itu bukan sekadar jadwal olahraga. Itu adalah momen mereka bisa merasa diterima dan dihargai. Keberadaan Rumah Sahabat Qur’an menunjukkan bahwa pendidikan dan ruang bahagia adalah hak bagi siapa saja, termasuk mereka yang hidup dalam gelap.
Melalui kegiatan ini, komunitas berharap masyarakat luas dan pemerintah bisa lebih peka terhadap keberadaan kelompok disabilitas. Sebab, dukungan sekecil apa pun—baik itu ruang terbuka maupun akses pendidikan—sangat berarti bagi kemandirian mereka di masa depan. (Nars)

























