BANDUNG – Terpilihnya Daniel Mutaqien Syafiuddin sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jabar secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI Golkar Jawa Barat menyisakan pesan politik yang mendalam.
Mulusnya pergantian tampuk kepemimpinan ini dinilai bukan sebatas kemenangan prosedural, melainkan sinyalemen kuat bahwa beringin Jabar tengah menghindari risiko ‘perpecahan’ yang berpotensi membelah kekuatan partai.
- Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan
- Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK
- Viral Kecelakaan Kuningan Hari Ini: Mobil Terbalik di Karangkancana, Mantan Camat Jadi Korban
- Kenang Jasa Guru dan Orangtua, Demonstran HMI Kuningan Tak Kuat Tahan Air Mata, Sebut Anggaran Pendidikan Selalu Jadi Bancakan
- Ditanya Transparansi Pengawasan Temuan BPK di Disdikbud, Ini Jawaban Wakil Ketua DPRD Kuningan Ujang Kosasih
Analisis tajam ini dikemukakan oleh Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah. Menurut Toto, dalam panggung politik, sebuah aklamasi tidak pernah lahir dari ruang hampa. Selalu ada kalkulasi matang di baliknya.
“Aklamasi itu biasanya lahir dari dua kemungkinan; ada figur super kuat yang tak tertandingi, atau ada kesadaran kolektif bahwa kontestasi terbuka hanya akan melahirkan luka politik yang lebih besar. Dalam kasus Daniel, kedua faktor ini bertemu,” urai Toto dalam rilis tertulisnya, Sabtu (11/4/2026).
Sebagai provinsi dengan lanskap politik yang kompleks dan menjadi barometer nasional, Toto menegaskan bahwa Jawa Barat bukanlah arena yang tepat untuk menggelar konflik internal. Golkar Jabar dinilai telah belajar dari masa lalu dan enggan mengulang tragedi ‘menang di kandang, namun rontok di medan juang’ akibat perpecahan elit.
“Ini bukan sekadar aklamasi. Ini adalah pilihan sadar dan paling rasional untuk menghindari pertarungan yang bisa melemahkan fondasi partai itu sendiri,” tandasnya.
Kehadiran Daniel Mutaqien di pucuk pimpinan juga mendobrak persepsi miring soal dinasti politik. Meski menyandang status sebagai putra mantan Bupati Indramayu, almarhum Irianto MS Syafiuddin (Yance), Daniel dinilai bukan pemimpin karbitan yang hanya mengandalkan previlese keluarga.
Toto mengamati bahwa Daniel tumbuh dan mengakar melalui rahim kaderisasi partai. Ia memiliki militansi yang teruji dan daya terima (akseptabilitas) yang tinggi lintas kubu. Di tengah krisis kader yang melanda banyak parpol, figur muda yang matang jam terbang seperti Daniel adalah komoditas langka.
“Golkar tidak cuma butuh tokoh yang jago tampil di panggung, tapi juga sosok leader yang paham anatomi mesin partai dan mampu mengonversi jaringan menjadi pundi-pundi elektoral. Daniel memiliki kombinasi itu; muda, berpengalaman, dan ngerti ritme organisasi,” papar Toto.
Di balik eforia aklamasi, Toto mengingatkan bahwa Daniel memikul beban maha berat sebagai “jembatan politik”. Di tengah tarikan berbagai gerbong kepentingan di internal Golkar Jabar, ia harus mampu berdiri di tengah dan menjadi representasi semua pihak, bukan sekadar pelayan satu kubu.
Toto menegaskan, aklamasi adalah titik awal ujian, bukan garis finis kemenangan. Tugas berat menanti Daniel di depan mata: menghapus residu fiksi, merajut konsolidasi hingga ke akar rumput, dan yang paling krusial adalah mendesain ulang wajah Golkar agar nyambung dengan generasi pemilih baru.
“Jika dia gagal merangkul semua kekuatan, aklamasi ini hanya akan menjadi jeda damai sesaat. Tapi jika berhasil, ini adalah momentum epic comeback Golkar di Jawa Barat,” analisisnya.
“Daniel bukan sekadar ketua baru, dia adalah taruhan masa depan partai. Politik pada akhirnya akan membuktikan, apakah jalan aklamasi ini sekadar cari aman, atau justru menjadi jalan paling cerdas untuk kembali membesarkan partai,” sebut Toto Izul Fatah. (Nars)






























