KUNINGAN – Ada denyut kreativitas yang berbeda di Gedung Kesenian Raksawacana Kuningan bulan ini. Mulai 10 hingga 26 April 2026, panggung seni legendaris tersebut didapuk menjadi episentrum perhelatan akbar lintas disiplin bertajuk Menu Budaya Gembira (MBG) untuk menghidupkan puisi Taufiq Ismail.
Menariknya, event yang hanya digelar selama tiga pekan ini tidak sekadar menyuguhkan hiburan semata, melainkan meramu karya sastra klasik menjadi tontonan visual yang epik.
- Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan
- Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK
- Viral Kecelakaan Kuningan Hari Ini: Mobil Terbalik di Karangkancana, Mantan Camat Jadi Korban
- Kenang Jasa Guru dan Orangtua, Demonstran HMI Kuningan Tak Kuat Tahan Air Mata, Sebut Anggaran Pendidikan Selalu Jadi Bancakan
- Ditanya Transparansi Pengawasan Temuan BPK di Disdikbud, Ini Jawaban Wakil Ketua DPRD Kuningan Ujang Kosasih
Sajian utamanya adalah pertunjukan “Negeri Tanpa Pertanyaan”, sebuah mahakarya kolaboratif yang mengawinkan teater, musik, dan tari ke dalam satu panggung utuh.Lakon “Negeri Tanpa Pertanyaan” sendiri merupakan dekonstruksi dan tafsir artistik atas puisi legendaris Pelajaran Tata Bahasa dan Mengarang karya sastrawan besar Taufiq Ismail.
Lewat lakon ini, teks-teks puitis yang kaku dihidupkan kembali untuk menggugah kesadaran dan nalar kritis penontonnya.
Humas MBG sekaligus Ketua Komunitas Teater Sado, Edi Supardi, menyebutkan Menu Budaya Gembira dirancang sebagai ruang dialog antara karya sastra dan masyarakat luas. “Kami ingin menghadirkan pengalaman baru, di mana puisi tidak hanya dibaca, tetapi dirasakan melalui tubuh, bunyi, dan visual panggung,” tutur Edi membeberkan ruh dari pertunjukan tersebut.
Lebih dari sekadar pentas, MBG menjadi magnet kebangkitan ekosistem seni lokal di “Kota Kuda”. Tercatat, ada belasan komunitas seni budaya yang turun gunung dan melebur dalam agenda ini. Mulai dari Teater Sado, Dapur Sastra Universitas Kuningan, GHC Dance Community, Kampung Dongeng Kuningan, hingga Yayasan Hibar Budaya Nusantara bersinergi secara kolektif.
Ratusan aktor, penari, musisi, hingga kru produksi bahu-membahu meramu pertunjukan ini.Selain menjadi oase kreativitas, perhelatan ini membawa misi besar untuk memperkuat literasi sastra masyarakat melalui pendekatan performatif, sekaligus mengembalikan fungsi seni sebagai medium perenungan dan refleksi sosial.
Mengingat durasi pelaksanaannya yang sangat terbatas, masyarakat diimbau untuk segera mengamankan kursi penonton. Pertunjukan di Gedung Kesenian Raksawacana Kuningan ini digelar setiap Jumat pada pukul 14.00 WIB. Sementara untuk akhir pekan (Sabtu dan Minggu), panitia membuka tiga sesi pertunjukan secara maraton pada pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB. (Nars)

























