

KUNINGAN — Beralihnya garis komando dan pengelolaan penyuluh pertanian ke ranah kementerian membawa tuntutan kinerja yang lebih nyata di tingkat daerah. Pemerintah Kabupaten Kuningan secara tegas memperingatkan agar tidak ada lagi penyuluh yang “tak terlihat” di lapangan.
Keberadaan mereka kini wajib dirasakan langsung oleh petani demi menjaga dan menggenjot swasembada pangan.
- Gubernur Dedi Mulyadi Soroti RTRW Kuningan: Kelestarian Gunung Ciremai Adalah Nadi Kehidupan
- Hari Jadi ke-528 Kuningan: Ekonomi Melesat 7 Persen Tanpa Tinggalkan Budaya Lokal
- Ramai Flyer Wabup Tuti untuk Bupati Dian, Pengamat: Beneran “Pecah Kongsi”?
- Perkuat Ekosistem Bisnis, Homeless Media Ciayumajakuning Jajaki Kolaborasi dengan GEKRAF Cirebon
- Adaptasi Era Konvergensi, Media Homeless Ciayumajakuning Bedah Pemanfaatan AI di Kuningan
Penegasan tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., dalam agenda Pembinaan dan Silaturahmi Penyuluh Pertanian, Kamis (9/4/2026). Ia secara terbuka menyoroti kritik dari sejumlah petani yang masih merasa diabaikan.
“Kita harus jujur. Masih ada petani yang merasa belum pernah didampingi penyuluh. Ini peringatan keras. Tidak boleh ada lagi penyuluh yang tidak terlihat oleh petani. Penyuluh harus hadir, aktif, dan menjadi solusi di lapangan,” tegas Wahyu.
- Gubernur Dedi Mulyadi Soroti RTRW Kuningan: Kelestarian Gunung Ciremai Adalah Nadi Kehidupan
- Hari Jadi ke-528 Kuningan: Ekonomi Melesat 7 Persen Tanpa Tinggalkan Budaya Lokal
- Ramai Flyer Wabup Tuti untuk Bupati Dian, Pengamat: Beneran “Pecah Kongsi”?
- Perkuat Ekosistem Bisnis, Homeless Media Ciayumajakuning Jajaki Kolaborasi dengan GEKRAF Cirebon
- Adaptasi Era Konvergensi, Media Homeless Ciayumajakuning Bedah Pemanfaatan AI di Kuningan
Tuntutan agar penyuluh turun gelanggang dan mengubah pola kerjanya menjadi lebih proaktif bukanlah tanpa alasan. Saat ini, Kabupaten Kuningan memegang peran sebagai salah satu penopang pangan strategis di Jawa Barat.
Kehadiran penyuluh menjadi kunci utama untuk mempertahankan dan meningkatkan capaian impresif daerah. Hal ini dibuktikan dengan tren peningkatan surplus beras daerah yang melesat signifikan, dari 93 ribu ton pada tahun 2024 menjadi 120.244 ton pada tahun 2025.
Total produksi sepanjang 2025 sendiri sukses mencapai 396.873 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara 254.435 ton beras, yang mana angka tersebut jauh melampaui kebutuhan konsumsi lokal sebesar 134.191 ton per tahun.Tren positif ini terus berlanjut pada awal tahun 2026.
Hingga akhir Maret, Kuningan mencatatkan panen progresif dengan merampungkan 78 persen sawah, atau sekitar 20.310 hektare dari total luas baku 26.016 hektare. Capaian ini diklaim jauh lebih cepat dibandingkan sejumlah daerah lain.
Menurut Wahyu, hal ini menunjukkan Kuningan tidak hanya surplus, tetapi juga lebih progresif dalam mengawal musim tanam dan panen, sekaligus mengisi pasokan beras nasional sejak awal tahun.



