KUNINGAN — Akronim MBG yang belakangan ini identik dengan program pemenuhan gizi fisik pemerintah, rupanya diretas secara kreatif oleh para seniman Kuningan. Alih-alih mengurus soal perut, gabungan komunitas lintas seni yang menamai diri mereka Menu Budaya Gembira (MBG) justru hadir untuk memberikan “asupan gizi” bagi jiwa.
Lewat kolaborasi teater, tari, dongeng, hingga musik, mereka menyuguhkan pementasan teater bertajuk Negeri Tanpa Pertanyaan yang resmi digelar di Gedung Kesenian Raksawacana mulai hari ini, 10 hingga 26 April 2026.
- Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan
- Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK
- Viral Kecelakaan Kuningan Hari Ini: Mobil Terbalik di Karangkancana, Mantan Camat Jadi Korban
- Kenang Jasa Guru dan Orangtua, Demonstran HMI Kuningan Tak Kuat Tahan Air Mata, Sebut Anggaran Pendidikan Selalu Jadi Bancakan
- Ditanya Transparansi Pengawasan Temuan BPK di Disdikbud, Ini Jawaban Wakil Ketua DPRD Kuningan Ujang Kosasih
Pimpinan Produksi Pagelaran Teater MBG, Bias Lintang Dialog, tidak menampik bahwa pemilihan nama Menu Budaya Gembira sengaja mengambil singkatan program pemerintah yang sedang ramai diperbincangkan.
Namun, ia menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar ikut-ikutan tren, melainkan sebuah ikhtiar sadar dari para seniman lokal untuk menjadi pelengkap dari pembangunan sumber daya manusia di Kuningan.
Menurutnya, pemenuhan gizi fisik harus berjalan beriringan dengan pemenuhan gizi mental dan spiritual. “Ya MBG itu kan sekarang juga lagi ramai, cuma tidak diidentifikasikan ke sana sebetulnya. Kita menjadi pelengkap saja. Filosofinya, di dalam tubuh yang sehat itu terdapat jiwa yang kuat. Jadi kita akan menjadi pelengkap untuk menuju jiwa-jiwa yang kuat bagi siswa-siswa,” ungkap Bias Lintang Dialog saat menjelaskan makna di balik singkatan tersebut.
Untuk mewujudkan asupan gizi jiwa tersebut, lakon Negeri Tanpa Pertanyaan digarap secara serius dengan mengambil tafsir dan adaptasi dari puisi karya luhur berjudul Pelajaran Tata Bahasa dan Mengarang.
Karena muatan ceritanya yang sarat akan makna pendidikan, Bias menyebutkan bahwa target penonton utama dari pementasan ini adalah instansi pendidikan dan para pelajar, di mana pesan dari puisi tersebut dirasa sangat relevan dengan dinamika mereka saat ini.
Pementasan megah ini bukanlah proyek semalam. Bias menjelaskan bahwa karya ini adalah hasil proses kreatif dan gotong royong selama dua bulan terakhir yang melibatkan banyak seniman berbakat dari berbagai disiplin seni di Kuningan.
Seluruh konsep yang disajikan adalah buah pikir bersama yang menelurkan ide-ide brilian dari setiap lini lintas seni. Dengan dedikasi tinggi dari tim produksi, ia mengajak seluruh elemen masyarakat Kabupaten Kuningan untuk datang langsung merawat nalar dan mengapresiasi karya seni ini di Gedung Kesenian Raksawacana. (Nars)

























