Beranda / Kuningan / Ekspresi Emosi Jadi Karya Seni, Penyandang Disabilitas Mental Tambakbaya Sukses Produksi Batik ‘Ciprat’ Jamuju

Ekspresi Emosi Jadi Karya Seni, Penyandang Disabilitas Mental Tambakbaya Sukses Produksi Batik ‘Ciprat’ Jamuju

‎‎KUNINGAN – Di balik stigma yang kerap melekat, puluhan penyandang disabilitas mental di Desa Tambakbaya membuktikan diri mampu menghasilkan karya bernilai ekonomi tinggi. Melalui tangan-tangan kreatif mereka, lahir kain batik bermotif “Jamuju” dan abstrak yang kini laris manis di pasaran.‎‎

Kepala Desa Tambakbaya, Lukman Mulyadi, menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk pemberdayaan bagi warganya yang sedang menjalani masa rehabilitasi mental. Uniknya, metode pembatikan yang digunakan bukanlah mencanting pola rumit, melainkan teknik “cipratan” yang membebaskan ekspresi.‎‎

“Desainnya ini unlimited, tidak ada pola yang tetap. Teknik cipratan ini menjadi media bagi mereka untuk melampiaskan kondisi emosi menjadi sebuah karya seni abstrak. Jadi, cipratan warna di kain itu adalah gambaran perasaan mereka,” ujar Lukman saat ditemui di lokasi produksi, Senin (22/12/2025).‎‎

Lukman menuturkan, salah satu motif andalan yang diproduksi adalah Batik Jamuju. Motif ini terinspirasi dari pohon khas Kabupaten Kuningan dan merupakan inisiasi langsung dari Bupati Kuningan.‎‎

Dalam prosesnya, para warga binaan menggunakan cetakan daun Jamuju yang dipadukan dengan teknik ciprat. Hasilnya adalah kain batik eksklusif berbahan Katun Jepang dan Premisima yang dibanderol mulai dari Rp170.000 hingga Rp225.000 per potong.

‎‎Respons pasar pun sangat mengejutkan. Lukman mengungkapkan, meski pelatihan baru berjalan sekitar satu bulan, produktivitas dan antusiasme pembeli sangat tinggi.‎‎

Alhamdulillah, baru satu bulan pelatihan dan produksi, kita sudah sold out terjual 500 potong. Mereka (warga binaan) sangat cepat belajar, satu kali latihan langsung bisa produksi,” ungkapnya bangga.‎‎

Program pemberdayaan ini tidak berdiri sendiri. Lukman menjelaskan bahwa inisiatif ini bermula dari kerja sama antara Pemerintah Desa dengan Kementerian Koordinator PMK, Kementerian Sosial melalui Poltekesos, dan Sentra Terpadu “Kartini” di Temanggung.

‎‎Saat ini, terdapat total 53 penyandang disabilitas mental yang dibina dalam program tersebut. Mereka dibagi ke dalam beberapa divisi sesuai minat dan kemampuan.‎‎

“Ada 53 orang yang kita bina. Terbagi menjadi 6 orang di pengelolaan sampah, 4 orang di peternakan, dan sisanya yang paling banyak ada di produksi batik ini,” jelas Lukman.‎‎

Menutup pembicaraan, Lukman berharap Pemerintah Daerah (Pemda) Kuningan dapat memberikan dukungan keberlanjutan. Bukan dalam bentuk kucuran dana segar, melainkan kepastian pasar bagi produk karya warganya.‎‎

“Ke depan, kami berharap dukungan Pemda itu berupa pembelian produk. Jadi pasarnya yang dibantu, bukan sekadar uang tunai. Ini bukti bahwa mereka bisa berdaya jika diarahkan dengan baik dan benar,” sebutnya. (Nars)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *