CIREBON – Upaya pelestarian dan pemberdayaan masyarakat di kaki gunung tertinggi Jawa Barat mendapat energi baru. Paguyuban Kelompok Tani Hutan (KTH) Silihwangi Majakuning secara resmi menggandeng Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon untuk memperkuat ekosistem di desa penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Kolaborasi strategis ini dikukuhkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Rektor UGJ, Prof. Dr. Ir. Achmad Faqih, dan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Paguyuban, H. Nandar, di Ruang Rapat Rektor UGJ, Kamis (29/1/2026).
- Tahun Baru Imlek 2026, The Icon dan Embun Sang’ga Langit Hadirkan Atraksi Barongsai dan Diskon Kamar dan Kuliner – Jangan Lewatkan!
- Musim Hujan, Warga Cikondang “Menabung Air” Lewat Revitalisasi Blok Cirangkong
- Pererat Silaturahmi Jelang Ramadan, Koramil 1501 Kuningan Gelar Munggahan Bersama Anggota DPRD
- Ironi Kemegahan Waduk Darma: Wisata Mendunia, Masih Ada Desa “Miskin Ekstrem”
- Sambut Ramadan 2026, Bupati Dian Rachmat Yanuar: Hiburan Malam Tutup Total, Petasan Dilarang Keras
Sinergi Kampus dan 1.000 Petani
Kerja sama ini menjadi jembatan antara dunia akademik dengan sekitar 1.000 petani hutan yang tersebar di 28 desa wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka. Fokus utamanya adalah penguatan kelembagaan, ekologi, hingga ekonomi masyarakat desa penyangga Gunung Ciremai.
Plt Ketua Paguyuban KTH Silihwangi Majakuning, H. Nandar, menyebut masuknya dukungan kampus merupakan momentum krusial. Menurutnya, tantangan konservasi dan pengelolaan hutan saat ini membutuhkan sentuhan riset dan pendampingan akademis.
“Kami mendampingi 28 KTH di desa penyangga. Potensi ini sangat besar, namun butuh penguatan. Mulai dari pengolahan hasil hutan, pemulihan ekosistem, hingga teknis konservasi, semua bisa dikolaborasikan dengan civitas akademika UGJ,” ujar Nandar.
Bukan Sekadar Dokumen
Wakil Rektor IV UGJ, Dr. Cita Dwi Rosita, menegaskan bahwa MoU ini tidak akan berhenti di atas kertas. Kampus berkomitmen menerjunkan dosen dan mahasiswa untuk melakukan pengabdian nyata, termasuk melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik dan riset terapan.
“Desa-desa penyangga ini adalah penghasil air dengan nilai ekologis tinggi. UGJ ingin mensinergikan potensi kampus agar memberikan dampak langsung, baik itu pendampingan UMKM Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), akses permodalan, hingga teknologi tepat guna,” jelas Cita.
Respons Positif Desa Penyangga
Langkah kolaboratif ini disambut antusias oleh pemerintah desa setempat. Kepala Desa Cisantana, Ano Suratno, menilai kehadiran UGJ akan memperkuat desain pembangunan desa yang berbasis konservasi.
”Lingkungan Ciremai harus dilindungi bersama. Kami butuh kajian akademik agar pembangunan dan kesejahteraan masyarakat bisa berjalan beriringan dengan kelestarian alam,” jelas Ano. (Nars)


