Ekonomi Bisnis Kuningan Nasional

‎IHSG Anjlok Terjungkal 4,6 Persen, Dihantam ‘Panic Selling’ Bursa Asia dan Penurunan Prospek Kredit RI‎‎

BISNIS – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat hingga ditutup anjlok 4,6 persen ke level 7.577,1 pada perdagangan hari Rabu (4/3).

Pelemahan tajam ini bahkan sempat menyentuh angka minus 5,6 persen pada sesi intraday. Kejatuhan indeks saham domestik ini tidak lepas dari imbas panic selling (aksi jual panik) yang melanda bursa saham di kawasan Asia akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, serta sentimen negatif dari dalam negeri menyusul penurunan outlook kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional, Fitch.‎‎

Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah telah memicu guncangan bersejarah di pasar saham Asia. Indeks Kospi di Korea Selatan anjlok hingga 12 persen dan memicu penghentian perdagangan (trading halt) selama 20 menit akibat likuidasi paksa pada saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).

Kondisi serupa terjadi di Thailand, di mana Indeks SET merosot 8,6 persen dan mengalami penghentian perdagangan sementara selama 30 menit karena tingginya ketergantungan negara tersebut pada impor minyak.

Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong masing-masing terkoreksi 3,6 persen dan 2 persen yang dipicu oleh besarnya aliran dana keluar dari saham-saham di sektor semikonduktor.‎‎

Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan

Di pasar domestik, tekanan jual sangat mendominasi bursa. Dari total 910 saham yang tercatat, hanya 54 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Telkom Indonesia Tbk, PT Amman Mineral Internasional Tbk, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk menjadi pemberat utama indeks.

Kepanikan pasar juga merambat ke pasar uang, di mana nilai tukar rupiah melemah 0,17 persen menjadi Rp16.885 per dolar Amerika Serikat. Di pasar surat utang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke level 6,61 persen, diiringi oleh pelarian modal asing (net foreign outflow) di pasar saham yang mencapai Rp117,9 miliar pada hari yang sama.‎‎

Melengkapi sentimen negatif dari faktor eksternal, lembaga pemeringkat kredit Fitch secara resmi merevisi outlook atau prospek sovereign credit Indonesia dari “stabil” menjadi “negatif” menjelang penutupan perdagangan.

Keputusan Fitch ini mengonfirmasi rumor yang telah beredar sejak sesi pertama perdagangan dan menyusul langkah serupa yang diambil oleh Moody’s pada awal Februari lalu.

Revisi ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran atas ketidakpastian kebijakan, sentralisasi kewenangan, serta pelemahan prospek fiskal jangka menengah, yang mana risiko pembengkakan tekanan fiskal ini juga telah diperingatkan oleh lembaga S&P Global sebelumnya.

Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK

‎‎Merespons dinamika tersebut dan lonjakan harga minyak mentah Brent yang meroket hingga menembus level 81,4 dolar AS per barel, pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya untuk melakukan penyesuaian postur anggaran belanja. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga defisit fiskal agar tetap berada di bawah batas tiga persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah membuka opsi untuk menghemat anggaran hingga Rp100 triliun, yang salah satunya dapat dilakukan dengan memangkas alokasi untuk program Makan Bergizi Gratis guna menyelamatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari risiko defisit yang membesar akibat krisis geopolitik global. (Nars)

× Advertisement
× Advertisement