

KUNINGAN — Musim kemarau mulai mencekik sejumlah wilayah di Kabupaten Kuningan. Di Desa Karangkancana, krisis air bersih mulai terasa dan membuat warga berbondong-bondong membawa ember besar dan jerigen berkapasitas 25 hingga 30 liter. Mereka rela mengantre berjam-jam hingga waktu Magrib demi mendapatkan jatah air untuk kebutuhan harian.Armada tangki berisi 9.000 liter dari BAZNAS Kabupaten Kuningan sudah tiba dan menunggu di desa mereka.
Pasokan bantuan air bersih ini menjadi penyelamat di tengah sumur-sumur warga yang mulai kerontang akibat kemarau.Wakil Ketua BAZNAS Kabupaten Kuningan, Adang Romadona, saat ditemui di wilayah Luragung, Sabtu (1/8/2026), membenarkan kondisi memprihatinkan yang terjadi di lapangan.
- Megahnya BUMDes Festival Jabar 2026 Sisakan Utang, Vendor Tenda Lokal: Segera Bayar!
- Buntut Dugaan Keracunan 30 Siswa, Satgas Suspend Operasional SPPG MBG di Ciwaru
- Hj Tina Wiryawati Ajak Pelajar Kuningan jadi Pelopor Gerakan Bela Negara di Lingkungannya
- Kasus Dugaan Keracunan MBG di Ciwaru: Satgas Telusuri Dapur Pengolah dan Uji Rantai Pasok Makanan
- Diduga Keracunan Program MBG, Puluhan Siswa di Ciwaru Dilarikan ke Puskesmas, Satu Dirujuk ke RS
Menurutnya, saking tingginya kebutuhan air di Karangkancana, proses pembagian pasokan dari satu tangki saja memakan waktu hingga petang agar semua wadah milik warga bisa terisi penuh.
Adang menjelaskan, pasokan yang tiba di Karangkancana merupakan bagian dari kuota 20 tangki air bersih yang disediakan melalui bantuan BAZNAS RI dan difasilitasi BAZNAS Kabupaten Kuningan.
“Bantuan air bersih ini dialokasikan khusus untuk merespons krisis di pelosok Kuningan. Distribusi ini akan dilakukan secara maraton dari satu desa ke desa lainnya jika warga membutuhkan,” kata Adang.
Setelah Karangkancana, imbuhnya, pasokan air juga telah berhasil dikirimkan untuk warga di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cidahu.”Melihat kondisi di lapangan yang masih sangat membutuhkan, Insya Allah akan ada penambahan armada yang terus tersalurkan jika musim kemarau belum juga usai,” sebutnya.
Menariknya, penelusuran ke pelosok desa untuk mengantar air bersih ini justru membuka mata terhadap persoalan infrastruktur yang tak kalah mendesak. Di tengah pemetaan wilayah terdampak kekeringan, ditemukan akses desa yang kondisinya sangat terbatas dan selama ini hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.
“Selain bantuan air bersih ada juga intervensi di daerah pelosok seperti bantuan pembangunan jembatan. Dalam waktu dekat, akan segera dirilis proyek pembangunan jembatan darurat untuk membuka akses wilayah terisolir tersebut,” tambahnya. (Nars)



