

KUNINGAN – Peristiwa longsor yang terjadi di kawasan bagian bawah lokasi wisata Arunika, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, terus menuai sorotan. Meskipun sempat disebut-sebut lokasi longsor berada di jalur hiking Obyek Wisata Lembah Cilengkrang, namun pemerhati lingkungan Avo Juhartono meluruskan bahwa longsor terjadi di tebing kawasan wisata Arunika yang berdampak pada jalur hiking tersebut.
Menurut Avo, longsor di kawasan tersebut bukanlah kejadian baru. Sejak Februari 2025, longsor di tebing bagian bawah Arunika sudah beberapa kali terjadi, dan kejadian terakhir pada Mei 2025 bahkan sempat diunggah oleh pengunjung wisata Lembah Cilengkrang melalui media sosial.
- Bupati Kuningan Unjuk Prestasi di Hadapan Gubernur, KDM Tekankan Pentingnya Keteladanan Pemimpin
- Gubernur Dedi Mulyadi Soroti RTRW Kuningan: Kelestarian Gunung Ciremai Adalah Nadi Kehidupan
- Hari Jadi ke-528 Kuningan: Ekonomi Melesat 7 Persen Tanpa Tinggalkan Budaya Lokal
- Ramai Flyer Wabup Tuti untuk Bupati Dian, Pengamat: Beneran “Pecah Kongsi”?
- Perkuat Ekosistem Bisnis, Homeless Media Ciayumajakuning Jajaki Kolaborasi dengan GEKRAF Cirebon
“Saya tidak mewakili lembaga apapun, ini murni panggilan nurani sebagai salah satu penggagas Lembah Cilengkrang. Perlu saya tegaskan, longsor bukan terjadi di jalur hiking, tapi di tebing kawasan Arunika yang berdampak ke jalur tersebut,” ujar Avo dalam keterangannya di akun Facebook miliknya, Sabtu (17/5/2025).
Avo menilai, berulangnya kejadian longsor seharusnya menjadi pengingat bagi semua pihak, khususnya pengelola dan pemerintah daerah, untuk kembali meninjau daya dukung dan daya tampung kawasan wisata yang berada di atas tebing Lembah Cilengkrang.
“Pemanfaatan sumber daya alam memang penting untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tapi jangan hanya mempertimbangkan potensi ekonominya saja. Harus ada perhitungan risiko bencana agar pembangunan tetap lestari dan berkelanjutan,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Pajambon, Nani Ariningsih. Ia mengungkapkan bahwa sejak kawasan tersebut dibangun menjadi tempat wisata, risiko longsor semakin meningkat.
“Dulu daerah itu adalah kawasan hutan. Banyak pohon yang menyerap air, jadi meski hujan deras, air bisa tertahan. Sekarang setelah ada pembangunan, resapan hilang, air langsung mengalir deras dan memicu longsor,” jelas Nani.
Ia menambahkan, lokasi longsor bahkan sangat dekat dengan penampungan air milik Arunika, yang berada tepat di bawah tebing yang rawan runtuh.“Sebelum ada pembangunan di atas lembah, kejadian longsor tidak pernah terjadi. Kalaupun ada, hanya di saluran irigasi warga, bukan sebesar sekarang,” tambahnya.


Sebelumnya, pihak BTNGC dan pengusaha pemilik kawasan Arunika mengklaim telah meninjau penyebab longsor di kawasan tersebut dari hulu sampai hilir. Kasi Wilayah I BTNGC Kuningan, Hayunita, menyebutkan proses identifikasi penyebab longsor masih dalam tahap analisis pihaknya.
Dalam pemeriksaan awal pihaknya, diduga penyebab longsor adalah akibat curah hujan yang tinggi yang menyebabkan debit air meningkat menggerus material longsoran. Ia menepis tudingan yang menganggap peristiwa longsor di wilayah itu akibat adanya pembangunan di kawasan wisata Arunika. (Nars)



