KUNINGAN – Bulan Syaban bukan sekadar bulan penyangga antara Rajab dan Ramadhan, melainkan momentum krusial bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi total (muhasabah). Hal ini ditekankan oleh Penceramah KH Aman Syamsul Falaah dalam khutbah Jumatnya yang menyoroti keistimewaan malam Nisfu Syaban.
Kiai Aman mengingatkan bahwa malam ke-15 bulan Syaban adalah waktu di mana seluruh amal perbuatan manusia selama satu tahun dilaporkan secara langsung kepada Allah SWT.
- Kasus Narkoba Kuningan, Perangkat Desa dan 3 IRT Diringkus Polisi
- Terkuak! Misteri Kematian Ikan Dewa Cigugur, Ternyata Ini Penyebabnya
- Duh! Puluhan Ikan Dewa di Kolam Cigugur Mati Mendadak
- Titip Masa Depan Ciremai, PKB Desak ‘Harga Mati’ Zonasi Konservasi di RTRW 2026-2046
- Menyambut Malam Nisfu Syaban, Saatnya Muhasabah Sebelum Pintu Ramadhan Terbuka
“Nabi pernah bersabda, tidaklah aku memperbanyak puasa kecuali di bulan Syaban. Harapannya, ketika amal ibadah dilaporkan kepada Allah, beliau dalam keadaan berpuasa. Ini isyarat bahwa Syaban adalah bulan evaluasi, apakah setahun ini lebih banyak amal saleh atau amal salah?” ujar KH Aman Syamsul Falaah dalam tausiyahnya, Jum’at (30/1/2026).
Lebih dalam, KH Aman mengupas makna teologis dari surat Ad-Dukhan ayat 3-4 tentang malam yang diberkati (lailatin mubarakatin). Ia menjelaskan bahwa pada malam Nisfu Syaban, takdir tahunan (muqaddarat) manusia dicatat secara rinci di Lauh Mahfuz.
Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam untuk menghidupkan malam tersebut dengan memperbanyak salat sunah, membaca surat Yasin, dan bermunajat.
“Di malam itu dirinci segala urusan. Maka mintalah kepada Allah. Jika di Lauh Mahfuz dicatat kita akan celaka atau rugi, minta agar diganti menjadi keberuntungan. Jika dicatat rezeki sempit, minta dihapus dan diganti dengan kelapangan rezeki untuk ibadah,” pesannya.
Meski Nisfu Syaban dikenal sebagai malam pengampunan massal (Lailatul Maghfirah), KH Aman memberikan peringatan keras. Berdasarkan Hadis Qudsi, Allah akan mengampuni seluruh dosa Bani Adam pada malam itu, kecuali beberapa golongan tertentu.
“Kecuali orang yang menyekutukan Allah (al-musyrik), orang yang bermusuhan dan pendendam (al-musyahin), orang yang terus menerus berzina (al-musir ‘alaz zina), serta peminum khamr. Jika tidak berhenti total dan bertaubat malam itu, mereka tidak akan mendapat ampunan,” tegasnya.
Menutup tausiyahnya, KH Aman Syamsul Falaah mengajak jamaah untuk menjadikan bulan Syaban sebagai Syahrul Isti’dad atau bulan persiapan.
“Islam itu bersifat implementatif. Mari kita persiapkan diri, baik fisik materiil maupun mental spiritual untuk menyongsong bulan suci Ramadhan. Semoga kita dipanjangkan umur dalam ketaatan dan wafat dalam keadaan husnul khotimah,” pesannya. (Nars)







