KUNINGAN – Bulan Syaban bukan sekadar bulan penyangga antara Rajab dan Ramadhan, melainkan momentum krusial bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi total (muhasabah). Hal ini ditekankan oleh Penceramah KH Aman Syamsul Falaah dalam khutbah Jumatnya yang menyoroti keistimewaan malam Nisfu Syaban.
Kiai Aman mengingatkan bahwa malam ke-15 bulan Syaban adalah waktu di mana seluruh amal perbuatan manusia selama satu tahun dilaporkan secara langsung kepada Allah SWT.
- Setahun Memimpin di Tengah Fiskal Terseok, Duet Dian-Tuti Sukses Bikin Ekonomi Kuningan Melesat Tertinggi se-Pulau Jawa
- Tahun Baru Imlek 2026, The Icon dan Embun Sang’ga Langit Hadirkan Atraksi Barongsai dan Diskon Kamar dan Kuliner – Jangan Lewatkan!
- Musim Hujan, Warga Cikondang “Menabung Air” Lewat Revitalisasi Blok Cirangkong
- Pererat Silaturahmi Jelang Ramadan, Koramil 1501 Kuningan Gelar Munggahan Bersama Anggota DPRD
- Ironi Kemegahan Waduk Darma: Wisata Mendunia, Masih Ada Desa “Miskin Ekstrem”
“Nabi pernah bersabda, tidaklah aku memperbanyak puasa kecuali di bulan Syaban. Harapannya, ketika amal ibadah dilaporkan kepada Allah, beliau dalam keadaan berpuasa. Ini isyarat bahwa Syaban adalah bulan evaluasi, apakah setahun ini lebih banyak amal saleh atau amal salah?” ujar KH Aman Syamsul Falaah dalam tausiyahnya, Jum’at (30/1/2026).
Lebih dalam, KH Aman mengupas makna teologis dari surat Ad-Dukhan ayat 3-4 tentang malam yang diberkati (lailatin mubarakatin). Ia menjelaskan bahwa pada malam Nisfu Syaban, takdir tahunan (muqaddarat) manusia dicatat secara rinci di Lauh Mahfuz.
Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam untuk menghidupkan malam tersebut dengan memperbanyak salat sunah, membaca surat Yasin, dan bermunajat.
“Di malam itu dirinci segala urusan. Maka mintalah kepada Allah. Jika di Lauh Mahfuz dicatat kita akan celaka atau rugi, minta agar diganti menjadi keberuntungan. Jika dicatat rezeki sempit, minta dihapus dan diganti dengan kelapangan rezeki untuk ibadah,” pesannya.
Meski Nisfu Syaban dikenal sebagai malam pengampunan massal (Lailatul Maghfirah), KH Aman memberikan peringatan keras. Berdasarkan Hadis Qudsi, Allah akan mengampuni seluruh dosa Bani Adam pada malam itu, kecuali beberapa golongan tertentu.
“Kecuali orang yang menyekutukan Allah (al-musyrik), orang yang bermusuhan dan pendendam (al-musyahin), orang yang terus menerus berzina (al-musir ‘alaz zina), serta peminum khamr. Jika tidak berhenti total dan bertaubat malam itu, mereka tidak akan mendapat ampunan,” tegasnya.
Menutup tausiyahnya, KH Aman Syamsul Falaah mengajak jamaah untuk menjadikan bulan Syaban sebagai Syahrul Isti’dad atau bulan persiapan.
“Islam itu bersifat implementatif. Mari kita persiapkan diri, baik fisik materiil maupun mental spiritual untuk menyongsong bulan suci Ramadhan. Semoga kita dipanjangkan umur dalam ketaatan dan wafat dalam keadaan husnul khotimah,” pesannya. (Nars)


