KUNINGAN – Harapan dan kebahagiaan pasangan suami istri asal Desa Gandasoli, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, seketika berubah menjadi duka mendalam. Setelah penantian panjang selama tujuh tahun untuk mendapatkan buah hati, bayi yang begitu dinanti akhirnya lahir—namun tak bernyawa.
Kisah ini bermula ketika sang istri merasakan kontraksi dan tanda-tanda persalinan. Keduanya segera meminta pertolongan bidan di lingkungan perumahan mereka, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Linggarjati Kuningan dan masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD).
- Tingkatkan Taraf Ekonomi Desa, Wabup Kuningan Dorong Inovasi Olahan Buah Kesemek di Gunung Sirah
- Sensasi Bersantap Romantis di Bawah Gemerlap “City Light”, The Icon Kuningan Rilis Paket “Love in the Sky Dining”
- PNM Tanam 29.000 Pohon, Perluas Pemberdayaan dari Sandang hingga Lingkungan
- Refleksi Hari Lahir Pancasila, Uha Juhana Ungkap Pragmatisme Politik dan Pentingnya Kepemimpinan Ideologis
- Lirik Potensi Silat, Tina Wiryawati Dorong Budaya Sunda Dikemas Sekreatif ‘Drakor dan Dracin”
Namun, sejak masuk rumah sakit, keluarga mengaku tak kunjung mendapatkan penanganan medis yang seharusnya.Selama dua hari di IGD, pasien belum juga menjalani tindakan medis lebih lanjut. Hingga akhirnya, ketuban pecah dan airnya membasahi lantai ruangan.
Mirisnya, tidak ada tenaga medis yang segera menindaklanjuti kondisi tersebut. Bahkan, suami pasien dibantu petugas kebersihan rumah sakit membersihkan air ketuban yang mengalir deras di lantai.
“Saya hanya ingin istri saya dan anak kami diselamatkan. Tapi sampai air ketuban istri saya tumpah di lantai, tidak ada tindakan. Alasannya, dokter susah dihubungi,” ujar Andi, suami pasien, dengan suara terbata menahan emosi.
Harapan menyambut anak pertama yang telah lama didoakan dan dipersiapkan dengan penuh cinta pun hancur. Semua perlengkapan bayi yang telah dibeli, kamar mungil yang telah dihias, dan doa-doa yang terus dipanjatkan, kini hanya menjadi saksi bisu kehilangan.
Warga sekitar rumah Pasutri yang kehilangan bayinya ini pun ikut menyampaikan bela sungkawa, karena tahu betul bagaimana pasangan ini begitu lama menanti kehadiran seorang anak.


Pihak RSUD Linggarjati melalui Direktur dr. Eddy Syarief, MM., MM.RS., membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga pasien dan menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan audit terhadap seluruh tenaga medis yang bertugas saat kejadian berlangsung.
“Kami turut berduka cita dan menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga pasien. Kami akan menindaklanjuti dengan audit menyeluruh agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” jelasnya saat dihubungi media. (Nars)













