

KUNINGAN – Di tengah kasus kematian sejumlah kambing milik warga di Kecamatan Hantara yang diduga diterkam hewan buas, sebuah video penampakan macan tutul hitam tersebar luas dan memicu keresahan. Namun, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat wilayah Cirebon memastikan bahwa video tersebut adalah bukan peristiwa penampakan macan tutul di Kabupaten Kuningan.
Saat dikonfirmasi pada Kamis (7/8/2025) malam, Kepala BKSDA Jawa Barat wilayah Cirebon, Slamet Priambada, menjelaskan bahwa video yang beredar di media sosial itu tidak merekam kejadian di wilayah Kuningan.
- Jamin Higienitas MBG, SPPG Jagara Kuningan Terapkan IPAL Terintegrasi dan Gandeng BUMDes Olah Sampah
- Krisis Air Bersih Melanda Desa Pakembangan, Dian Rachmat Yanuar Janjikan Solusi Cepat Bersama PUTR dan PDAM
- Miniatur Lembur Pakuan KDM Hadir di Kuningan, Warga Jagara Sulap Gerbang Desa dengan Nuansa Tradisional
- Dramatis! Menang Adu Penalti Atas Sindangagung, Garawangi Segel Tiket 8 Besar Bupati Cup 2026
- Geliat Ekonomi Kreatif di Pesona Sunset Sore Taman Desa Jagara Kuningan
“Yang pasti bukan kejadian di Kuningan walaupun yang mengunggah salah satu warga di Kuningan,” tegas Slamet.
Setelah ditelusuri di platform pencarian dunia maya, unggahan video yang sama persis dengan video yang tersebar ditemukan. Video yang diunggah di salah satu akun media sosial YouTube pada 5 Agustus 2025 itu menyebutkan penampakan macan kumbang tersebut terjadi di kawasan hulu Sungai Citanduy.


Meski video penampakan tersebut dipastikan hoaks, pihak Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan tetap mengonfirmasi adanya kasus kambing mati yang diduga diterkam macan.
Kepala Diskanak, A Taufik Rohman, membenarkan bahwa pihaknya telah meninjau langsung ke lapangan pasca hebohnya kasus ini. Selama beberapa bulan terakhir, lebih dari 20 ekor kambing di dua desa, yaitu Desa Tundagan dan Desa Cikondang, menjadi korban.
“Diskanak Kuningan telah berkoordinasi dengan BKSDA Jawa Barat wilayah Cirebon untuk mencari solusi. Sejumlah upaya telah dilakukan untuk mengusir macan tutul, antara lain dengan meletakkan kotoran singa di area yang diduga menjadi wilayah jelajah predator tersebut,” terang Taufik.
Selain itu, warga juga diimbau untuk membunyikan kentongan pada waktu-waktu tertentu agar hewan buas itu menjauh. Secara bertahap, Diskanak Kuningan juga membantu pemasangan pagar kawat berduri untuk membatasi ruang gerak predator agar tidak kembali memangsa hewan ternak milik warga. (Nars)



