KUNINGAN – Di tengah kasus kematian sejumlah kambing milik warga di Kecamatan Hantara yang diduga diterkam hewan buas, sebuah video penampakan macan tutul hitam tersebar luas dan memicu keresahan. Namun, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat wilayah Cirebon memastikan bahwa video tersebut adalah bukan peristiwa penampakan macan tutul di Kabupaten Kuningan.
Saat dikonfirmasi pada Kamis (7/8/2025) malam, Kepala BKSDA Jawa Barat wilayah Cirebon, Slamet Priambada, menjelaskan bahwa video yang beredar di media sosial itu tidak merekam kejadian di wilayah Kuningan.
- 21 Daerah Jabar Raih WTP, Pengumuman LHP BPK Kuningan Ditunda, Kenapa?
- Resmi Naik! Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 Meroket per 10 Juni 2026
- Polemik Dana Pokir PKS Kuningan: Mantan Dewan Soroti Etika Komunikasi, Fraksi Janjikan Evaluasi
- Dramatis, Petugas Gabungan di Kuningan Berhasil Bujuk Seorang Ibu yang Ingin Akhiri Hidup
- Satlantas Kuningan Tunda Jadwal Patuh Lodaya 2026, Polisi: Tertib Berlalu Lintas Jangan Tunggu Ada Operasi
“Yang pasti bukan kejadian di Kuningan walaupun yang mengunggah salah satu warga di Kuningan,” tegas Slamet.
Setelah ditelusuri di platform pencarian dunia maya, unggahan video yang sama persis dengan video yang tersebar ditemukan. Video yang diunggah di salah satu akun media sosial YouTube pada 5 Agustus 2025 itu menyebutkan penampakan macan kumbang tersebut terjadi di kawasan hulu Sungai Citanduy.


Meski video penampakan tersebut dipastikan hoaks, pihak Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan tetap mengonfirmasi adanya kasus kambing mati yang diduga diterkam macan.
Kepala Diskanak, A Taufik Rohman, membenarkan bahwa pihaknya telah meninjau langsung ke lapangan pasca hebohnya kasus ini. Selama beberapa bulan terakhir, lebih dari 20 ekor kambing di dua desa, yaitu Desa Tundagan dan Desa Cikondang, menjadi korban.
“Diskanak Kuningan telah berkoordinasi dengan BKSDA Jawa Barat wilayah Cirebon untuk mencari solusi. Sejumlah upaya telah dilakukan untuk mengusir macan tutul, antara lain dengan meletakkan kotoran singa di area yang diduga menjadi wilayah jelajah predator tersebut,” terang Taufik.
Selain itu, warga juga diimbau untuk membunyikan kentongan pada waktu-waktu tertentu agar hewan buas itu menjauh. Secara bertahap, Diskanak Kuningan juga membantu pemasangan pagar kawat berduri untuk membatasi ruang gerak predator agar tidak kembali memangsa hewan ternak milik warga. (Nars)














