

KUNINGAN – Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) di Desa Ciniru, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, kini telah menghanguskan area seluas kurang lebih lima hektare. Sehingga hampir seluruh area TPSA Ciniru ini terdampak kebakaran yang terjadi dalam 2 hari ini.
Insiden yang pertama kali terdeteksi pada hari Rabu (12/8/2026) ini memaksa tim gabungan menerjunkan ratusan personel darurat untuk menjinakkan api yang merambat dengan sangat cepat.
- Kebakaran TPSA Ciniru Kuningan Meluas Lima Hektare, Dua Ratus Personel Dikerahkan
- Tak Perlu Putar Jalan Berjam-jam, Warga Kuningan Kini Nikmati Jembatan Garuda dan Air Bersih
- Wisuda ke-34 Uniku Cetak 1.128 Lulusan, Bupati Kuningan: Jangan Cuma Cari Kerja!
- Geger Polemik Izin RS Permata Kuningan: Eks Kapolsek Diduga Persekusi Aktivis, Rekaman CCTV Diminta Disita
- Buka Konferprov PWI Jabar, Wali Kota Bandung Farhan Minta Jurnalis Dekonstruksi Kerja Jurnalistik di Era Digital
Bencana lingkungan ini bermula dari kepulan asap tebal dan bau menyengat yang menguar dari tumpukan sampah sekitar pukul 04.00 WIB.
Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan memastikan amukan si jago merah di area Blok Bubulak Titisara ini nihil korban jiwa. Kendati demikian, kondisi tumpukan material yang mudah terbakar membuat perluasan area krisis sulit dibendung pada awal kejadian.
Situasi darurat tersebut memicu respons skala besar dari pemerintah daerah dan aparat keamanan. Jajaran petinggi daerah, mulai dari Bupati dan Wakil Bupati Kuningan, Ketua DPRD, hingga Kapolres Kuningan, langsung turun meninjau lokasi kebakaran.
Di lapangan, sekitar 200 anggota tim gabungan yang terdiri atas unsur kementerian, TNI, Polri, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga relawan masyarakat berjibaku mengepung titik api. Pergerakan mereka disokong penuh oleh pengerahan alat berat, termasuk belasan armada truk tangki, mobil pemadam kebakaran, serta dua unit ekskavator untuk mengurai timbunan sampah penyebab bara.
Medan yang luas dan tertutup kabut asap menuntut petugas bekerja secara lebih taktis dengan memanfaatkan teknologi. Guna melacak sebaran titik panas yang bersembunyi di sektor utara dan selatan, tim menerbangkan pesawat nirawak termal (drone thermal) untuk memetakan penanganan pemadaman secara presisi.
Operasi pemadaman terus dipacu sejak pagi hingga petang di tengah kondisi cuaca cerah berawan, lalu disambung dengan pemantauan ketat pada malam hari. Kepastian kelanjutan operasi penanganan pada hari Jumat, 14 Agustus 2026, baru akan ditetapkan setelah hasil evaluasi dan taklimat (briefing) tim gabungan.(Nars)



