

KUNINGAN – Upaya pemadaman kebakaran TPSA Ciniru Kuningan masih menemui jalan buntu akibat kepulan asap tebal dan jarak pandang yang terbatas.
Kondisi ini membuat proses pendinginan di lokasi pembuangan akhir tersebut berjalan lambat, sekaligus memicu ancaman krisis penumpukan sampah di lingkungan masyarakat karena terhentinya armada pengangkut.
- Target Padam Jelang Kemerdekaan, Kapan Kebakaran TPSA Ciniru Kuningan Berakhir?
- Imbas Kebakaran TPSA Kuningan, Pelayanan Sampah Terpaksa Dibatasi, Kadis LH Imbau Begini
- Hari Keempat, Kebakaran TPSA Ciniru Kuningan Belum Padam, Petugas Terkepung Asap Tebal
- PMI Kabupaten Kuningan Kerahkan Bantuan Air Bersih ke Lokasi Kebakaran TPSA Ciniru
- Dapur Umum BPBD di TPSA Ciniru Kuningan Beroperasi Dukung Logistik Ratusan Personel
Jarak pandang di lokasi kejadian saat ini merosot tajam hingga tersisa sekitar sepuluh meter akibat pekatnya asap dari gunungan sampah yang terbakar. Situasi ekstrem tersebut membuat sejumlah petugas pemadam mengalami sesak napas di lapangan hingga harus mendapat bantuan suplai tabung oksigen dari tim medis Dinas Kesehatan.
Kepala UPT Damkar Satpol PP Kabupaten Kuningan, Andri Arga Kusumah, saat ditemui di lokasi menjelaskan timnya kini memusatkan tenaga pada proses pendinginan area. Langkah ini diambil karena suhu panas yang terperangkap di bawah permukaan tumpukan sampah masih berpotensi besar memicu nyala api susulan kapan saja.
“Area yang menjadi prioritas pendinginan adalah zona bongkar muat kendaraan pengangkut. Hal ini mendesak dilakukan karena aktivitas pembuangan dari Dinas Lingkungan Hidup sempat lumpuh selama beberapa hari, sehingga pelayanan pengangkutan limbah rumah tangga masyarakat harus segera kembali beroperasi,” ujarnya.
Terkait awal mula insiden ini, pihak pemadam menerima laporan darurat pada Rabu (12/8) dini hari sekitar pukul empat subuh dari pengelola sampah setempat.
Api yang terekam secara visual pada awalnya belum menjalar luas, namun dengan cepat membesar hingga melahap hampir seluruh kawasan tempat pembuangan akhir.
Minimnya pasokan air dan jauhnya titik sumber air menjadi kendala paling berat yang menyulitkan skema pemadaman pada fase awal. Meski saat ini suplai air sudah mengalir berkat armada gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Pekerjaan Umum, Palang Merah Indonesia, hingga PAM Tirta Kamuning, besarnya volume area yang terbakar membuat penanganan memakan waktu panjang.
Walau lokasi masih diselimuti kepulan asap dan sisa bara, denyut aktivitas di kawasan tersebut perlahan mulai terlihat kembali. Sejumlah pemulung tampak beraktivitas di sekitar lokasi, sementara beberapa truk pengangkut sampah dari desa sekitar sudah mulai menurunkan muatannya di sejumlah titik pinggiran yang dipastikan aman dari jangkauan api. (Nars)



