

KUNINGAN – Insiden kebakaran TPSA Ciniru Kabupaten Kuningan yang bermula pada hari Rabu (12/8) lalu berdampak langsung pada sistem pengangkutan limbah rumah tangga. Pemerintah daerah sempat menghentikan total aktivitas pembuangan selama hampir tiga hari demi mencegah perluasan titik api di area penampungan tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan, Usep Sumirat menyebutkan langkah penutupan darurat harus diambil karena kondisi di lapangan sangat berisiko jika aktivitas bongkar muat tetap dipaksakan.
- Target Padam Jelang Kemerdekaan, Kapan Kebakaran TPSA Ciniru Kuningan Berakhir?
- Imbas Kebakaran TPSA Kuningan, Pelayanan Sampah Terpaksa Dibatasi, Kadis LH Imbau Begini
- Hari Keempat, Kebakaran TPSA Ciniru Kuningan Belum Padam, Petugas Terkepung Asap Tebal
- PMI Kabupaten Kuningan Kerahkan Bantuan Air Bersih ke Lokasi Kebakaran TPSA Ciniru
- Dapur Umum BPBD di TPSA Ciniru Kuningan Beroperasi Dukung Logistik Ratusan Personel
“Petugas saat itu fokus berjuang melokalisasi kobaran api agar tidak merambat ke area lahan yang lebih luas,” tandas Usep di lokasi, Sabtu (15/8/2026).
Akibat penutupan tersebut penumpukan limbah di berbagai sudut wilayah tidak dapat terhindarkan dan memicu keresahan warga. Merespons situasi ini pemerintah akhirnya kembali membuka layanan pengangkutan secara terbatas dengan memprioritaskan pengambilan dari jalur protokol yang menumpuk.
Meski armada pengangkut mulai beroperasi kembali kondisi di area pembuangan sebenarnya belum seratus persen aman. Pengamatan visual memang menunjukkan titik api sudah terkendali hingga delapan puluh lima persen namun suhu panas di bawah tumpukan material diprediksi masih sangat tinggi.
“Karakteristik api di lokasi ini menyerupai kebakaran lahan gambut yang apinya terus menjalar di bawah permukaan. Penanganan paling efektif yang sedang diupayakan petugas saat ini adalah memadatkan area bekas kebakaran dan menutupnya rapat menggunakan tumpukan tanah,” papar Usep.
Pihaknya juga menyebutkan kebiasaan sebagian masyarakat yang mencari jalan pintas dengan membakar tumpukan limbah mereka sendiri. Di tengah puncak musim kemarau warga dilarang melakukan aktivitas tersebut karena percikan api sangat mudah memicu kebakaran lingkungan yang lebih parah.
Sebagai solusi jangka panjang warga disarankan mulai memilah sisa konsumsi rumah tangga alih alih membuang semuanya dalam bungkusan plastik kresek. Dedaunan kering maupun sisa makanan organik sangat potensial diolah menjadi pupuk kompos sehingga beban volume di tempat pembuangan akhir bisa jauh berkurang. (Nars)



