

KUNINGAN – Kapan penanganan kebakaran TPSA Ciniru Kuningan dipastikan berakhir masih menjadi pekerjaan rumah bagi tim penanggulangan bencana daerah. Namun tim gabungan menargetkan seluruh proses pemadaman bisa tuntas secara keseluruhan dalam satu hingga dua hari ke depan.
Harapan utamanya adalah kawasan pembuangan akhir di Kecamatan Jalaksana ini bisa benar-benar bersih dari kepulan asap bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan pada tujuh belas Agustus mendatang.Target penyelesaian tersebut sangat bergantung pada keberhasilan petugas menaklukkan bara api yang tersembunyi di bawah tumpukan sampah.
- Target Padam Jelang Kemerdekaan, Kapan Kebakaran TPSA Ciniru Kuningan Berakhir?
- Imbas Kebakaran TPSA Kuningan, Pelayanan Sampah Terpaksa Dibatasi, Kadis LH Imbau Begini
- Hari Keempat, Kebakaran TPSA Ciniru Kuningan Belum Padam, Petugas Terkepung Asap Tebal
- PMI Kabupaten Kuningan Kerahkan Bantuan Air Bersih ke Lokasi Kebakaran TPSA Ciniru
- Dapur Umum BPBD di TPSA Ciniru Kuningan Beroperasi Dukung Logistik Ratusan Personel
Meski secara kasat mata kondisi permukaan lahan terlihat kondusif dan minim kobaran, nyatanya potensi bahaya belum sepenuhnya berlalu. Pemetaan menggunakan pesawat nirawak pengukur suhu pada malam hari mengungkap masih adanya titik panas bersuhu ekstrem di kedalaman tumpukan material.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan Indra Bayu Permana menyatakan bahwa titik api di bawah tanah inilah yang memicu munculnya kembali kepulan asap pekat setiap hari. Menurutnya kawasan paling krusial yang membutuhkan durasi penanganan ekstra berada di sisi barat, utara, dan selatan lahan.
Area tersebut menuntut kerja keras regu lapangan karena memiliki bentuk topografi terjal yang menyerupai tebing curam.
“Guna mengejar tenggat waktu penyelesaian, petugas menerapkan metode penanganan agresif dengan membongkar lapisan area yang terbakar. Kami menyemprotkan air bertekanan tinggi secara berulang untuk mengurai gundukan sampah sekaligus membuka jalan air ke dalam tanah,” terang Indra Bayu.
Cara ini mutlak dilakukan agar cairan pemadam dapat meresap sempurna membasahi lapisan terbawah sehingga suhu mematikan tersebut perlahan padam.
Percepatan operasi pemadaman bawah tanah ini membutuhkan jaminan ketersediaan pasokan air yang melimpah dan tidak terputus. Indra Bayu Permana menekankan bahwa suplai air harus masuk secara estafet agar tidak terjadi jeda waktu tunggu yang lama saat proses pendinginan berlangsung.
Seluruh armada tangki yang ada di lokasi difokuskan secara optimal melayani regu penyemprot agar api tidak berkesempatan membesar kembali.
Kekuatan armada penanganan saat ini tercatat mengalami sedikit pengurangan setelah tiga unit truk penyuplai air dari pemerintah provinsi dipulangkan untuk penugasan dinas lain. Namun operasional penyemprotan beruntung mendapat dukungan penuh dari kendaraan tangki penyokong milik Palang Merah Indonesia dan Perusahaan Daerah Air Minum setempat.
Ketersediaan cadangan logistik air dari dua lembaga tersebut sangat vital untuk mengejar target penyelesaian tepat waktu.Belasan personel gabungan dari BPBD, unit pemadam, Dinas Lingkungan Hidup, unsur aparat keamanan, hingga kelompok relawan terus bertahan merampungkan sisa pekerjaan.
Pembagian regu lapangan mulai dari penanganan zona rawan utara hingga manajemen kebutuhan makan minum diatur sedemikian rupa agar operasi berjalan efektif. Seluruh daya dan upaya ini dikerahkan demi memastikan masyarakat sekitar bisa kembali menghirup udara bersih dan merdeka dari ancaman asap. (Nars)



