

KUNINGAN – Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan Gunung Ciremai direspons cepat oleh masyarakat setempat. Menindaklanjuti instruksi Presiden Prabowo Subianto terkait kesiapsiagaan bencana, ratusan warga di lereng gunung tertinggi di Jawa Barat itu kini bersiaga dengan berbagai strategi mitigasi mandiri.
Motor penggerak langkah proaktif ini adalah Kelompok Tani Hutan (KTH) Paguyuban Silihwangi Majakuning bersama relawan Masyarakat Peduli Api (MPA). Mereka tak sekadar berpatroli, melainkan mulai membangun infrastruktur pencegahan api secara fisik dan ekologis.
- Keterbatasan Anggaran Tak Halangi Lapas Kuningan Berdayakan Warga Binaan Lewat Program Ketahanan Pangan
- Pastikan Tak Ada Sel Istimewa, Perwakilan Rakyat Apresiasi Ketegasan Lapas Kuningan Berantas Narkoba
- Arahan Presiden Prabowo, MPA Silihwangi Majakuning Cegah Karhutla di Lereng Ciremai, Warga Bangun Embung Air hingga ‘Green Belt’
- Kursi Ketua Gerindra Kuningan Ditentukan Rapor Kinerja, Bukan Riuh Dukungan Daerah
- Dinkes Kuningan Perketat Surveilans ISPA, Masyarakat Diimbau Waspada Influenza A
Ketua KTH Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Junar Arif, mengungkapkan bahwa warga yang hidup berdampingan dengan hutan selalu siap menjadi garda terdepan. Saat ini, salah satu fokus utama mereka adalah menyiasati sulitnya akses air di titik-titik rawan terbakar.
“Sebagai langkah konkret, saat ini kami sedang bergotong royong membuat embung penampung air di kawasan Seribu Bintang, Taman Nasional Gunung Ciremai,” ujar Nandar saat dihubungi pada Senin (28/9/2026).
Nandar menjelaskan, saat musim kemarau, sumber air kerap menyusut dan lokasinya sangat jauh dari area rawan karhutla. Hal ini seringkali menjadi kendala fatal bagi tim pemadam. Untuk mengatasinya, embung buatan warga ini dirancang menggunakan lapisan membran khusus agar mampu menahan cadangan air dalam waktu lama.
Selain infrastruktur air, mitigasi yang dilakukan warga juga menyentuh aspek ekologis. KTH Paguyuban Silihwangi Majakuning merancang sekat bakar—jalur khusus yang dibersihkan dari material mudah terbakar untuk memutus rambatan api.
Menariknya, sekat bakar ini tidak dibiarkan gersang, melainkan disulap menjadi green belt atau sabuk hijau.”Kami merintis sekat bakar hidup. Caranya dengan menanam komoditas yang tidak mudah memicu api, salah satunya adalah pohon kopi. Tanaman ini efektif menahan laju perambatan api jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran,” papar Nandar.
Strategi pencegahan yang inovatif ini didukung oleh kekuatan personel yang masif. Hingga saat ini, KTH Paguyuban Silihwangi Majakuning menaungi sekitar 1.076 anggota yang tersebar di 28 desa dan 28 kelompok tani hutan di wilayah Kabupaten Majalengka dan Kuningan.
Dari ribuan petani hutan tersebut, sebanyak 500 orang di antaranya telah mengabdi sebagai personel Masyarakat Peduli Api (MPA). Keberadaan mereka sangat vital untuk melakukan pemantauan harian serta penanganan darurat (respons awal) sebelum api membesar.Lewat kombinasi ketersediaan air, sekat bakar hidup, dan patroli intensif dari ratusan relawan, Nandar optimistis risiko karhutla tahun ini dapat ditekan secara signifikan.
“Harapan kami, sinergi yang kuat antara masyarakat dan pemerintah dalam upaya penanganan ini tak hanya meminimalkan risiko kebakaran, tetapi juga menjaga kelestarian jangka panjang kawasan lereng Gunung Ciremai,” katanya. (NARS)



