

KUNINGAN – Menanggapi pernyataan senior sekaligus Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, Bapak Nuzul Rachdy, mengenai penggantian Tugu Bola Dunia menjadi Patung Kuda yang dianggap mencederai nilai historis bupati terdahulu.
Saya, Satria Rizky Utama, Anggota DPRD Kabupaten Kuningan dari Fraksi Golkar, merasa perlu memberikan perspektif yang lebih substansial dan jernih.
- Pandangan Satria Rizky Utama terhadap Polemik Penggantian Tugu Bola Dunia Menjadi Patung Kuda
- Kritik Pembongkaran Tugu Bola Dunia Jadi Patung Kuda, Nuzul Rachdy: Pemda Cederai Nilai Historis Bupati Terdahulu
- Belajar Integritas dan Hidup Bersahaja dari Sosok Sutami dan Agus Salim
- PHRI Kuningan Sebar Ratusan Paket Makan Siang untuk Warga Lewat Aksi Jumat Berkah
- Gebrakan Detektif Stunting Ala Kepala Puskesmas Kuningan Selamatkan Puluhan Balita
Sebagai wakil rakyat, kita harus melihat penataan wajah kota bukan dari kacamata sentimen masa jabatan, melainkan dari kacamata identitas, akar budaya, dan citra kota (city branding) jangka panjang.
Oleh karena itu, saya mendukung penuh langkah visioner Pemerintah Daerah di bawah kepemimpinan Bupati Dian Rachmat Yanuar, dengan alasan-alasan fundamental berikut:
1. Kepekaan Bupati Dian Rachmat Yanuar dalam Mengembalikan “DNA” Asli Kabupaten Kuningan
Mari kita bertumpu pada realitas sejarah. Tugu Bola Dunia adalah simbol yang sangat universal dan generik—bisa ditemukan di kota mana pun di seluruh dunia. Sebaliknya, kuda adalah DNA dan identitas kultural tak terbantahkan dari Kuningan. Julukan “Kota Kuda” tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari sejarah panjang heroisme kuda Kuningan (Kuda Si Windu) peninggalan Adipati Ewangga.
Kebijakan Bupati Dian mengganti Bola Dunia dengan Patung Kuda bukanlah upaya menghapus sejarah, melainkan justru menggali dan menempatkan sejarah kita yang paling orisinal ke tempat yang paling terhormat. Ini adalah bentuk nyata kepekaan seorang pemimpin terhadap akar budayanya.
2. Definisi “Nilai Historis” yang Sesungguhnya
Kritik bahwa Pemda mencederai nilai historis bupati terdahulu adalah klaim yang keliru dan terlalu sempit. Nilai historis sebuah daerah tidak diukur dari tugu beton yang baru dibangun satu atau dua dekade lalu, melainkan dari warisan budaya yang sudah hidup berabad-abad di tengah masyarakatnya.
Membangun Patung Kuda justru menunjukkan bahwa Bupati Dian Rachmat Yanuar memiliki rasa hormat yang sangat tinggi terhadap keluhuran sejarah leluhur Kuningan, yang maknanya jauh lebih besar dari sekadar warisan satu periode pemerintahan.
3. Visi Cerdas dalam Penguatan City Branding untuk Pariwisata
Bupati Dian Rachmat Yanuar sangat memahami bahwa di era modern, setiap daerah bersaing ketat untuk menarik wisatawan. Saat wisatawan masuk ke wilayah Kuningan, mereka harus langsung merasakan aura “Kota Kuda”.
Tugu ikonik yang relevan dengan identitas lokal akan menjadi magnet visual dan memperkuat daya saing pariwisata kita. Ketegasan Pemda saat ini dalam mengeksekusi tata ruang berbasis budaya lokal patut kita apresiasi, karena akan berdampak positif pada ekonomi kreatif dan pariwisata.
4. Kesinambungan Pembangunan Harus Diiringi Inovasi
Pemerintahan Bupati Dian Rachmat Yanuar menunjukkan kualitas kepemimpinan yang berani berinovasi dan tidak terjebak pada status quo. Menghargai bupati terdahulu bukan berarti Pemda saat ini harus membeku dan tidak boleh menata ulang tata ruang kotanya.
Penghormatan kepada pendahulu sejatinya ditunjukkan dengan cara melanjutkan program kesejahteraan rakyatnya, bukan dengan mensakralkan monumennya. Estetika kota harus terus berevolusi menyesuaikan kebutuhan zaman, dan Bupati Dian telah mengambil langkah yang sangat tepat.
Kesimpulan:
Saya mengajak seluruh elemen masyarakat dan rekan-rekan di DPRD untuk tidak mempolitisasi penataan ruang publik ini. Langkah kepemimpinan Bupati Dian Rachmat Yanuar mengganti Tugu Bola Dunia menjadi Patung Kuda adalah keputusan berani, elegan, dan sarat akan makna filosofis untuk menegaskan jati diri ke-Kuningan-an kita.
Mari kita sudahi perdebatan simbolik ini. Fraksi Golkar akan terus mengawal dan mendukung penuh setiap kebijakan pro-kearifan lokal dan pro-rakyat yang digagas oleh Bupati Dian Rachmat Yanuar demi kemajuan Kabupaten Kuningan yang kita cintai.
Penulis: Satria Rizky Utama (Anggota Fraksi Partai Golongan Karya DPRD Kabupaten Kuningan) (NARS)



