

KUNINGAN – Melestarikan populasi hewan lokal tidak cukup hanya dengan memantau jumlah ekor, melainkan harus dibarengi dengan pemenuhan gizi yang konsisten. Hal ini menjadi fokus utama dalam upaya pelestarian Sapi Pasundan di Kabupaten Kuningan, yang saat ini populasinya tersebar di 16 kecamatan.
Data dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan mencatat kawasan timur Kuningan menjadi basis populasi terbesar sapi lokal tersebut. Kecamatan Cibingbin menempati urutan pertama dengan 1.689 ekor, diikuti Kecamatan Cimahi (1.235 ekor), Luragung (576 ekor), dan Ciwaru (538 ekor).
- Cipakem Charity Ride 2026 jadi Ajang Patroli Bersama Cegah Karhutla di Kawasan Perhutani
- Respons Arahan Gubernur KDM, Diskanak Pastikan Program Budidaya Ikan Dewa di Kuningan Sudah Berjalan
- Menjaga Genetik Sapi Pasundan di Kuningan: Tantangan Pakan Alami dan Upaya Mencegah ‘Stunting’ Ternak
- Mengenal Sapi Pasundan: Ikon Jawa Barat Asal Kuningan yang Kualitas Dagingnya Setara Wagyu
- Kemarau Landa Kuningan, Ratusan Ribu Liter Air Bersih Mengalir ke Pelosok
Meski populasinya stabil, metode pemeliharaan semi-intensif yang masih dipegang teguh oleh peternak lokal memunculkan tantangan tersendiri. Pada pagi hingga sore hari, ternak biasanya diumbar untuk mencari makan sendiri di lahan Perhutani, dan baru dikandangkan pada malam hari.
Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, drh. Rofiq, menyoroti ketersediaan dan kualitas rumput alami di kawasan Perhutani yang tidak selalu stabil.
“Lama-kelamaan rumput di lahan umbaran akan habis atau kualitas gizinya kurang memadai. Jika sapi kekurangan gizi, dampaknya sama seperti manusia, yakni terjadi stunting atau masalah reproduksi. Sapi betina yang kurang gizi akan sulit bunting meskipun sudah dikawinkan atau di-IB (Inseminasi Buatan),” papar Rofiq.
Untuk mencegah kemunduran genetik dan turunnya angka kelahiran, pemerintah daerah melakukan intervensi berkelanjutan. Peternak didorong untuk membudidayakan hijauan pakan ternak (HPT) berkualitas tinggi di lahan pribadi mereka, seperti rumput Odot dan Indigofera.
“Hasil panen rumput berkualitas ini dijadikan pakan tambahan saat ternak kembali ke kandang di malam hari. Dengan gizi yang tercukupi, tingkat kebuntingan dan kelahirannya akan tinggi, sehingga produktivitas sapi Pasundan tetap prima,” jelasnya.
Upaya konservasi ini juga didukung oleh keberadaan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di simpul-simpul populasi seperti Cibingbin.
Fasilitas ini memastikan setiap keluhan penyakit ternak dapat ditangani secara cepat, menjamin kelangsungan hidup plasma nutfah ikon Jawa Barat ini di tanah Kuningan. (NARS)



