

KUNINGAN – Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) melakukan langkah mitigasi cepat guna mencegah meluasnya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan Gunung Ciremai pada musim kemarau. Langkah tersebut mencakup patroli udara intensif dan penutupan seluruh jalur pendakian hingga batas waktu yang belum ditentukan.
- Akses Desa Gunung Manik Mulus, TMMD Kodim Kuningan Resmi Tuntas
- Tiga Hari Ikuti “Ngabela Nagara” Bakesbangpol Jabar, Tina Wiryawati Soroti Apatisme Gen Z
- Soal Pembangunan Cisantana dan Isu “RTRW Pesanan Investor”, DPRD Kuningan Minta Pemkab Dipertanyakan
- DPRD Kuningan Janji Transparan dan Hati-hati Bahas Raperda RTRW, Siap Libatkan Pakar dan Aktivis
- Dorong UMKM Naik Kelas, PNM Cirebon Padukan Akses Modal dan Perluasan Jejaring Lewat PKU Akbar 2026
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Toni Anwar, menyampaikan bahwa pihaknya terus bersiaga dengan melakukan patroli terestrial dan pemantauan udara.
“Setiap hari kami menerbangkan drone secara berkala, maksimal satu jam sekali. Pemantauan dimulai sejak pukul 06.00 WIB. Jika ada kepulan asap, tim langsung bergerak cepat sehingga api tidak sempat meluas,” ujar Toni kepada Kuningan Religi, Rabu (16/9/2026).
Terkait dampak kebakaran terhadap satwa liar, Toni memastikan bahwa satwa kunci seperti macan tutul, surili, dan elang jawa tidak terlalu terdampak karena area yang terbakar merupakan areal terbuka dan bukan habitat utama mereka. Satwa kecil di area semak diyakini telah memiliki insting mitigasi alami untuk berpindah lokasi.
Selain patroli, BTNGC juga menutup aktivitas pendakian berdasarkan arahan dari Direktorat Jenderal terkait dan Gubernur, menyusul tingginya tingkat kerawanan karhutla. Pengawasan di pos-pos pendakian seperti Apuy tetap berjalan dengan melibatkan mitra dan relawan untuk mencegah adanya pendaki ilegal. (NARS)



