

KUNINGAN – Harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Kuningan terus mengalami lonjakan dalam beberapa hari terakhir.
Sejumlah pedagang menyebutkan lonjakan harga daging ayam ini adalah dampak dari stok yang berkurang di pasaran karena daging dari peternakan banyak dipesan untuk pemenuhan bahan Makanan Bergizi Gratis.
- Sinergi Tina Wiryawati dan Budayawan Kuningan: Cegah Generasi Muda Lupa Akar Budaya Melalui Padepokan Seni Silat
- Batch 2 Konsolidasi di Kuningan, Tina Wiryawati Ingatkan Kader: “Jangan Sekadar Bangga Berseragam, Harus Bermanfaat”
- Gol Dramatis Ivan Mamut di Ujung Laga, Persija Tekuk Persib 2-1 di GBK
- Babak Pertama El Clasico Liga Premiere, Gol Jeremejeff Bawa Persija Unggul Sementara Atas Persib di GBK
- Pandangan Fraksi PPD DPRD Kuningan: Jangan Sampai APBD Sehat tapi Rakyat Sakit
Kondisi ini membuat para pembeli mengeluh, terutama mereka yang mengandalkan daging ayam sebagai bahan baku untuk usaha kuliner.
Pantauan di Pasar Kepuh, Jumat (12/9/2025), pedagang menjual daging ayam besar dengan harga Rp42 ribu per kilogram, ayam kecil Rp46 ribu per kilogram, dan daging ayam fillet mencapai Rp50 ribu per kilogram.
Padahal sebelumnya, harga daging ayam hanya berkisar Rp34 ribu hingga Rp38 ribu per kilogram.Yeni, warga Kelurahan Kuningan yang rutin membeli daging ayam untuk diolah kembali, mengaku keberatan dengan kenaikan harga yang terjadi hampir setiap hari.
Ia menuturkan, jika harga terus naik, keuntungan dari usahanya bisa tergerus. “Biasanya Rp36 ribu per kilogram, sekarang sampai Rp42-46 ribu. Untuk fillet bahkan Rp50 ribu. Kalau terus naik begini, bisa rugi. Saya berharap harga bisa segera turun,” ungkapnya.
Sementara itu, pedagang daging ayam di Pasar Kepuh, Oyo Sunaryo, menyebut kenaikan harga terjadi akibat berkurangnya pasokan. Menurutnya, lonjakan permintaan juga dipicu oleh adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Harga sekarang untuk ayam besar Rp42 ribu per kilogram. Sebelumnya paling tinggi Rp34 ribu sampai Rp38 ribu. Kenaikan ini sudah terjadi sejak dua minggu terakhir,” jelasnya.
Oyo menambahkan, kenaikan harga membuat omzet pedagang tidak menentu. Hanya pedagang yang memiliki modal cukup besar yang masih bisa bertahan.
“Keluhan pembeli banyak, karena harga terlalu mahal. Omzet juga tergantung modal. Kalau berani modal besar, usaha bisa jalan. Kalau tidak, ya berhenti dulu,” katanya.
Warga berharap pemerintah bisa segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga daging ayam di pasaran. Sebab, jika kondisi ini berlarut-larut, bukan hanya pembeli yang dirugikan, tetapi juga pedagang kecil yang bergantung pada penjualan ayam. (Nars)



