KUNINGAN – Gelaran balap sepeda internasional Tour de Linggarjati (TdL) yang tahun ini memasuki edisi ke-8 kembali digadang-gadang sebagai ajang sport tourism untuk mempromosikan potensi Kabupaten Kuningan.
Perhelatan event balap sepeda yang disebut-sebut bertaraf internasional ini, akan digelar selama 2 hari, yakni Sabtu (13/9) dan Ahad (14/9/2025).
- Setahun Memimpin di Tengah Fiskal Terseok, Duet Dian-Tuti Sukses Bikin Ekonomi Kuningan Melesat Tertinggi se-Pulau Jawa
- Tahun Baru Imlek 2026, The Icon dan Embun Sang’ga Langit Hadirkan Atraksi Barongsai dan Diskon Kamar dan Kuliner – Jangan Lewatkan!
- Musim Hujan, Warga Cikondang “Menabung Air” Lewat Revitalisasi Blok Cirangkong
- Pererat Silaturahmi Jelang Ramadan, Koramil 1501 Kuningan Gelar Munggahan Bersama Anggota DPRD
- Ironi Kemegahan Waduk Darma: Wisata Mendunia, Masih Ada Desa “Miskin Ekstrem”
Namun, sejumlah pelaku usaha wisata justru menilai event tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.
Hal itu disampaikan Gugun, pengelola objek wisata di kawasan Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Menurutnya, meski setiap tahun TdL digelar dengan semarak, tingkat kunjungan ke destinasi wisata masih relatif biasa saja.
“Kalau dibilang ada lonjakan pengunjung, hampir tidak terasa. Kami tetap sepi, bahkan di saat event berlangsung. Padahal jargon yang diangkat selalu sport tourism,” ujar Gugun, Jumat (12/9/2025).
Gugun menilai, pemerintah daerah perlu melakukan langkah konkret agar event internasional tersebut benar-benar terintegrasi dengan sektor pariwisata. Misalnya dengan membuat paket wisata khusus, promosi terpadu, atau melibatkan lebih banyak pelaku usaha lokal dalam rangkaian kegiatan TdL.
“Kami berharap jangan hanya ramai di acara balapnya saja. Wisata alam, kuliner, hingga homestay juga harus disinergikan supaya manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, anggota DPRD Kuningan, Susanto, juga menyoroti penyelenggaraan TdL yang dianggap terlalu dipaksakan. Menurutnya, di tengah kondisi ekonomi daerah yang sedang tidak baik-baik saja, seharusnya Pemkab Kuningan lebih selektif dalam menentukan prioritas kegiatan.
“Sejumlah event Hari Jadi Kuningan malah dibatalkan dengan alasan efisiensi dan keamanan. Tapi TdL tetap digelar dengan segala konsekuensinya. Padahal masyarakat justru menanti event karnaval budaya, yang sudah terbukti bisa mendongkrak omzet pedagang sekaligus menjadi ikon atraksi wisata tahunan,” tegas Susanto.
Ia menilai, pemerintah daerah sebaiknya menata ulang agenda wisata agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan berdampak nyata bagi perekonomian.
“Jangan sampai agenda internasional hanya jadi ajang seremonial, sementara potensi wisata lokal yang bisa menggerakkan ekonomi rakyat justru diabaikan,” tandas Legislator Dapil 5 Kuningan ini. (Nars)


