
KUNINGAN – Ketua Komisi 2 DPRD Kuningan, Jajang Jana, mendesak agar pemanfaatan air di Kabupaten Kuningan lebih memihak kepada rakyat kecil dan tidak semata-mata mengejar keuntungan. Ia menyoroti banyaknya kasus alih fungsi lahan dan persawahan yang kini kesulitan air, sehingga menjadi sawah tadah hujan.
“Ini memang jadi PR kita di Komisi 2,” ujar Jajang.
- Atmosfer Hangat di Agra Cafe Cijoho: Kebanggaan Bobotoh Kuningan Rayakan Kemenangan Persib atas Melbourne Victory di ACL 2
- Ngabihi se-Kecamatan Sindangagung Gelar Rakor Bulanan, Siap Sukseskan Deklarasi Aslinmas Jabar
- Marak Kos-kosan “Nakal” di Kuningan, Satpol PP Tegaskan Penertiban Terus Berjalan
- Disdikbud Kuningan Pastikan Perbaikan Ruang Belajar SDN 3 Cihirup Segera Dilaksanakan
- Tinjau Pasca Karhutla Ciremai, KDM Murka Lihat Tambang Batu Beroperasi Lagi di Desa Padabeunghar
Ia mengungkapkan, masalah ini sudah ia sampaikan kepada dinas terkait, termasuk saat kunjungan kerja ke Bendungan Kuningan yang seharusnya menjadi sumber air utama bagi petani, namun belum optimal.
Jajang meminta pemerintah daerah segera menginventarisasi wilayah-wilayah yang terdampak krisis air. “Bertolak belakang kalau toh swasembada pangan, akan tetapi keadaan air tidak jadi perhatian,” katanya.
Menurutnya, berkurangnya sumber mata air juga disebabkan oleh penebangan pohon yang idealnya menghasilkan air, dan diganti dengan tanaman yang lebih banyak menyerap air.
Pihaknya berkomitmen, Komisi 2 akan terus mengawasi alih fungsi lahan ini secara bersama-sama.
Jajang juga menyoroti tata kelola air yang belum maksimal, termasuk di kawasan Cisantana. Ia menegaskan, pemanfaatan air oleh pihak manapun, baik pengusaha maupun Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), harus memperhatikan kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar.
“Jangan sampai masyarakat justru yang jadi korban,” tegasnya.
Lebih lanjut, Jajang menyebutkan pentingnya aturan yang jelas dan analisis yang matang sebelum membuat kebijakan terkait pemanfaatan air.”Jangan lantas profit oriented ini jadi target utama, akan tetapi justru kita harus bisa melindungi kaum tani,” ucapnya.
Menurut Jajang, debit mata air di Kuningan sebenarnya masih mencukupi, asalkan ada tata kelola dan pembagian yang baik. Ia menambahkan, keserakahan menjadi salah satu faktor yang merusak kelestarian sumber air.
Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk bekerja sama memelihara sumber air, salah satunya dengan penanaman pohon yang tepat. (Nars)
