KUNINGAN – Ketua Komisi 2 DPRD Kuningan, Jajang Jana, mendesak agar pemanfaatan air di Kabupaten Kuningan lebih memihak kepada rakyat kecil dan tidak semata-mata mengejar keuntungan. Ia menyoroti banyaknya kasus alih fungsi lahan dan persawahan yang kini kesulitan air, sehingga menjadi sawah tadah hujan.
“Ini memang jadi PR kita di Komisi 2,” ujar Jajang.
- Punya Sertifikat! Tembakau Kuningan Naik Kelas, Tak Bisa Lagi Diklaim Daerah Lain
- Batal Kepung Gedung Setda, HMI Kuningan Pilih Tunggu Kepulangan Bupati dari Jakarta
- Waspada Pejabat Pesanan di Manajemen Talenta, Bupati Kuningan Diminta tak Ragu Sikat “Trouble Maker”
- Lepas 445 Jemaah Haji Kuningan, Bupati Dian Ingatkan Pentingnya Kesabaran dan Ibadah yang Mabrur
- Persiapan Final, Jemaah Calon Haji Kuningan Kloter Pertama Dilepas Besok, Pengantar Diimbau ‘Sasalaman’ di Rumah
Ia mengungkapkan, masalah ini sudah ia sampaikan kepada dinas terkait, termasuk saat kunjungan kerja ke Bendungan Kuningan yang seharusnya menjadi sumber air utama bagi petani, namun belum optimal.
Jajang meminta pemerintah daerah segera menginventarisasi wilayah-wilayah yang terdampak krisis air. “Bertolak belakang kalau toh swasembada pangan, akan tetapi keadaan air tidak jadi perhatian,” katanya.
Menurutnya, berkurangnya sumber mata air juga disebabkan oleh penebangan pohon yang idealnya menghasilkan air, dan diganti dengan tanaman yang lebih banyak menyerap air.
Pihaknya berkomitmen, Komisi 2 akan terus mengawasi alih fungsi lahan ini secara bersama-sama.
Jajang juga menyoroti tata kelola air yang belum maksimal, termasuk di kawasan Cisantana. Ia menegaskan, pemanfaatan air oleh pihak manapun, baik pengusaha maupun Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), harus memperhatikan kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar.
“Jangan sampai masyarakat justru yang jadi korban,” tegasnya.
Lebih lanjut, Jajang menyebutkan pentingnya aturan yang jelas dan analisis yang matang sebelum membuat kebijakan terkait pemanfaatan air.”Jangan lantas profit oriented ini jadi target utama, akan tetapi justru kita harus bisa melindungi kaum tani,” ucapnya.
Menurut Jajang, debit mata air di Kuningan sebenarnya masih mencukupi, asalkan ada tata kelola dan pembagian yang baik. Ia menambahkan, keserakahan menjadi salah satu faktor yang merusak kelestarian sumber air.
Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk bekerja sama memelihara sumber air, salah satunya dengan penanaman pohon yang tepat. (Nars)
























