KUNINGAN – Antusiasme mahasiswa Vietnam untuk mempelajari Bahasa Indonesia ternyata dihadapkan pada sejumlah kendala, mulai dari perbedaan sistem linguistik hingga terbatasnya bahan ajar.
Hal ini terungkap dalam Forum Ilmiah Internasional Semarak Bulan Bahasa IX yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kuningan (Uniku), pada Selasa (4/11/2025).
- Pererat Silaturahmi Jelang Ramadan, Koramil 1501 Kuningan Gelar Munggahan Bersama Anggota DPRD
- Ironi Kemegahan Waduk Darma: Wisata Mendunia, Masih Ada Desa “Miskin Ekstrem”
- Sambut Ramadan 2026, Bupati Dian Rachmat Yanuar: Hiburan Malam Tutup Total, Petasan Dilarang Keras
- Ramadan 1447 H, Ini Penyesuaian Jadwal Jam Kerja ASN Kuningan
- Peringati HPN 2026, PWI Kuningan Hijaukan Lereng Ciremai: Investasi Ekologi untuk Masa Depan
Narasumber dari University of Social Sciences and Humanities, Vietnam, Ton Thi Thuy Trang, M.Pd., secara gamblang menguraikan tantangan mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di negaranya.
“Di balik antusiasme mahasiswa Vietnam terhadap bahasa Indonesia, terdapat berbagai kendala. Namun, setiap tantangan menjadi peluang untuk berinovasi dalam metode pengajaran,” ujar Trang.
“Mengajar bahasa bukan sekadar menyampaikan struktur, tetapi juga menanamkan nilai budaya yang hidup di balik setiap kata,” imbuhnya.
Selain tantangan, forum ini juga membahas inovasi yang efektif. Huỳnh Hoàng Văn Anh, M.Pd. dari Ho Chi Minh Education Vietnam, menjelaskan bahwa model pembelajaran privat kini berkembang di Vietnam karena dianggap lebih efektif.
Menurutnya, pendekatan privat memungkinkan pembelajaran yang lebih personal dan fleksibel. “Bahasa berkembang ketika digunakan dalam konteks kehidupan nyata. Interaksi dengan penutur asli menjadi ruang pembelajaran yang paling berharga,” tuturnya.
Menjawab tantangan tersebut dari sisi teknologi, narasumber Uniku Dr. Ida Hamidah, M.Pd., menyebutkan pentingnya integrasi antara bahasa dan kecerdasan buatan (AI). Melalui pendekatan Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK), teknologi dapat membantu menjembatani keterbatasan bahan ajar.
“Kecerdasan buatan bukan pengganti manusia, melainkan mitra yang memperluas cakrawala berpikir dan berbahasa. Melalui teknologi, bahasa Indonesia dapat menjangkau dunia,” ujar Dr. Ida.
Forum yang dipandu oleh Dr. Ifah Hanifah, M.Pd. ini menjadi ajang dialog interaktif antar peserta dan narasumber. Diskusi hangat seputar strategi pembelajaran BIPA dan pemanfaatan teknologi menandai semangat kolaboratif untuk memajukan pengajaran Bahasa Indonesia di mancanegara. (Nars)


