KUNINGAN, – Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur Kabupaten Kuningan dalam beberapa hari terakhir bertepatan dengan peringatan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG telah merilis peringatan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem seiring masuknya puncak musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.
- Penentuan Posisi! 3 Calon Ketua DPC PKB Kuningan Jalani UKK Hari Ini
- Tega Buang Anak ke Sungai, Pelarian Janda Muda di Kuningan Berakhir Diamankan Polisi
- Rakyat Gigit Jari, Di Tengah Gaung Efisiensi Anggaran, DPRD Kuningan Gelar Bimtek Miliaran Rupiah
- Seleksi Calon Kadis Hanya Diikuti 67 Pejabat Eselon III, Pengamat Soroti Sistem Data Manajemen Talenta BKPSDM Kuningan
- Diwarnai Kartu Merah, Persib Bandung Susah Payah Tahan Imbang Dewa United 2-2
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dikutip dari laman website bmkg.go.id mengingatkan semua pihak untuk siaga menghadapi puncak musim hujan yang diperkirakan akan berlangsung mulai November 2025 hingga Februari 2026.
“Hingga akhir Oktober, sebanyak 43,8 persen wilayah Indonesia atau 306 Zona Musim (ZOM) telah resmi memasuki musim hujan. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir,” ujarnya.
Secara spesifik, BMKG memetakan Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi. Peningkatan intensitas hujan ini juga mulai meluas di wilayah barat Indonesia, termasuk Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah.
Menurut analisis BMKG, peningkatan potensi hujan lebat ini salah satunya dipengaruhi oleh fenomena La Nina lemah yang akan bertahan hingga awal 2026 serta fenomena Dipole Mode negatif. Kombinasi ini menciptakan atmosfer yang labil dan mendukung pembentukan awan konvektif yang masif.
Selain itu, BMKG juga mencatat keberadaan Siklon Tropis Kalmaegi di Samudra Hindia yang turut memengaruhi dinamika cuaca nasional.Peningkatan curah hujan ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di daerah-daerah dengan riwayat risiko tinggi.
Menanggapi potensi cuaca ekstrem ini, BMKG bersama BNPB dan instansi terkait telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di beberapa wilayah rawan. Untuk wilayah Jawa Barat, OMC telah dilaksanakan melalui Posko Jakarta pada periode 23 Oktober hingga 3 November 2025.
BMKG mengimbau masyarakat untuk senantiasa waspada dan mengantisipasi dampak cuaca ekstrem dengan membersihkan saluran air serta memangkas dahan pohon yang rapuh. (Nars)

























