KUNINGAN – Universitas Kuningan (Uniku) mengambil langkah strategis dalam diplomasi kebahasaan dengan menggelar Forum Ilmiah Internasional Semarak Bulan Bahasa IX. Menggandeng akademisi dari Vietnam, forum ini menjadi jembatan untuk memperkuat relasi intelektual dan citra bangsa Indonesia di kancah Asia Tenggara.
- Heboh Isu RTRW Kuningan ‘Dipesan’ Investor, Pejabat Dinas PUTR Buka Suara
- Sejalan dengan Pegiat Lingkungan, Mang Ewo Ingatkan Pemkab Kuningan Jangan Korbankan Zona Konservasi
- Ketua DPRD Kuningan Tegaskan Revisi RTRW Harus Seimbangkan Pariwisata dan Konservasi
- Kuningan Belum Miliki Bangunan SR, Puluhan Siswa Kurang Mampu Terpaksa Sekolah di Cirebon
- Ironi Gunung Mayana: Di Balik Viral Wisata Sunset, Warga Dihantui Krisis Mata Air
Acara yang dibuka oleh Dekan FKIP Uniku, Dr. Arip Hidayat, ini secara khusus menyoroti pengajaran dan penelitian Bahasa Indonesia di mancanegara. Arip mengungkapkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan pemahaman antarbudaya.
“Bahasa Indonesia kini telah menembus batas-batas geografis. Melalui kerja sama dengan perguruan tinggi di Vietnam, kita membangun relasi intelektual yang berakar pada semangat kebersamaan Asia,” ungkap Arip dalam sambutannya, Selasa (4/11/2025).
Semangat kolaborasi ini diperkuat oleh Dr. Erwin Oktoma, salah satu narasumber dari Uniku. Ia menjelaskan bahwa kerja sama akademik seperti ini tidak hanya membuka ruang riset bersama, tetapi juga memperkuat diplomasi kebudayaan.
“Kolaborasi antarnegara memperkaya ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat citra bangsa Indonesia sebagai pusat pengembangan bahasa di Asia Tenggara,” jelas Erwin.
Sementara, Dr. Asep Jejen Jaelani, juga dari Uniku, menambahkan bahwa Bahasa Indonesia memiliki potensi besar sebagai bahasa komunikasi antarbangsa di Asia Tenggara. “Dengan dukungan kerja sama seperti ini, kita sedang menyiapkan masa depan bahasa yang inklusif dan adaptif,” paparnya.
Terpisah, Ketua Pelaksana, Andriyana, M.Pd., melaporkan bahwa forum ini adalah kolaborasi konkret antara dosen Indonesia dan Vietnam. “Kami berharap kegiatan ini menjadi jembatan yang mempererat hubungan akademik dan budaya antarnegara. Bahasa adalah wajah bangsa, dan melalui forum ini, wajah Indonesia semakin dikenal di dunia,” ujarnya.
Forum ini ditutup dengan refleksi bersama bahwa kolaborasi akademik Indonesia-Vietnam menjadi bukti bahwa Bahasa Indonesia semakin diperhitungkan di ranah global, tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana mempererat persaudaraan antarbangsa. (Nars)














