Ekonomi Bisnis Finansial Kuningan

Hadapi Krisis Geopolitik Global, Pengusaha Muda Kuningan Farid Nugraha Bagikan Jurus ‘Survival Mode’ untuk UMKM

KUNINGAN – Ketidakpastian ekonomi akibat eskalasi isu geopolitik global perlahan mulai memberikan efek domino terhadap berbagai sektor bisnis, tak terkecuali bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Merespons tantangan tersebut, Pengusaha Muda asal Kuningan, Farid Nugraha, membagikan strategi jitu bagi para pebisnis lokal agar tetap adaptif dan tangguh di tengah ancaman krisis Geopolitik Global.

Menurut Farid, hal mendasar yang harus dimiliki pengusaha saat menghadapi situasi tak menentu adalah merubah cara pandang. Alih-alih tenggelam dalam kepanikan, pengusaha dituntut untuk melihat celah peluang.

“Di setiap krisis itu pasti ada hikmahnya. Bahkan banyak penelitian menyebutkan bahwa masa-masa krisis justru kerap melahirkan pebisnis-pebisnis baru, hingga orang kaya baru. Artinya, selalu ada peluang bagi kita yang mau beradaptasi,” ungkap Farid saat dikonfirmasi Senin (13/4/2026).

Secara teknis, Farid menyarankan para pelaku UMKM untuk segera mengaktifkan survival mode atau mode bertahan hidup. Langkah taktis pertama yang wajib dilakukan adalah mengaudit ulang neraca keuangan dan memangkas pengeluaran yang tidak esensial.

Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan

“Kita harus me-review lagi pengeluaran di bisnis kita. Mana biaya yang kira-kira tidak kritikal atau tidak terlalu penting, itu bisa kita cut loss atau kurangi dulu. Intinya, kita selamatkan napas bisnisnya,” tegasnya.

Gagasan Farid bukan sekadar isapan jempol. Ia membuktikan sendiri ketangguhan strategi tersebut saat bisnisnya dihantam badai pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Saat kebijakan pembatasan sosial (PSBB dan PPKM) diberlakukan secara ketat, jumlah gerai (outlet) fisik usahanya terpaksa menyusut drastis dari 12 menjadi hanya 6 gerai.

Namun, di tengah himpitan tersebut, Farid jeli melihat tren perubahan perilaku konsumen yang mulai beralih ke transaksi digital. “Waktu itu orang-orang pada di rumah saja, sementara marketplace.sedang naik daun. Akhirnya, kami gencarkan jualan via online. Alhamdulillah, hasil peralihan ke online itu omzetnya malah naik dua kali lipat lebih tinggi ketimbang saat mengandalkan 12 outlet fisik,” kenang Farid.

Di era keterbukaan informasi dan teknologi saat ini, Farid berpesan agar pelaku UMKM di Kuningan tidak miskin inovasi. Ketika dihadapkan pada kendala teknis imbas krisis global—seperti melonjaknya harga bahan baku atau kemasan plastik—pengusaha harus proaktif mencari bahan substitusi alternatif yang lebih masuk akal.

“Tuhan menciptakan kita lengkap dengan akal pikiran. Selama kita jeli memetakan peluang dan mau memanfaatkannya dengan baik, pasti akan selalu ada solusinya,” ujarnya. (Nars)

Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK

× Advertisement
× Advertisement