KHAZANAH – Momen pergantian tahun selalu menjadi ajang bagi masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas perayaan. Namun, selain merayakannya secara seremonial, umat Muslim juga dianjurkan memanfaatkan momentum ini sebagai sarana spiritual melalui pembacaan doa akhir dan awal tahun sebagai wujud refleksi serta harapan baru.
Tradisi membaca doa ini menjadi bagian penting bagi sebagian besar umat Islam untuk menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru dengan memohon keberkahan. Adapun panduan doa pergantian tahun ini salah satunya merujuk pada kitab Maslakul Akhyar yang ditulis oleh ulama besar sekaligus Mufti Jakarta abad ke-19–20 M, Habib Utsman bin Yahya.
- Menyambut Tahun Baru Islam, Umat Islam Diimbau Perkuat Refleksi Lewat Doa Akhir dan Awal Tahun
- Masih Banyak Kendala Sistem Zonasi PMB di Jabar, Legislator Gerindra Minta Pendidikan Tidak Dijadikan Ajang Coba-Coba
- Anggota DPRD Jabar Tina Wiryawati: Program Sekolah Maung Bisa Sukses dengan Validitas Data Siswa
- Sentuhan Gotong Royong SPPG Bakom Sulap SDN 1 Sagarahiang Jadi Lebih Berwarna
- Ditanya Soal “Lobi” BPK demi Status WTP, Bupati Kuningan Kasih Jawaban Menohok
Dalam praktiknya, doa akhir tahun dibaca terlebih dahulu menjelang penutupan tahun, kemudian dilanjutkan dengan doa awal tahun setelah memasuki waktu tahun baru. Kedua amalan ini dapat dilafalkan secara mandiri maupun dilakukan bersama-sama secara berjamaah.
Umat Islam dianjurkan membaca doa akhir tahun sebanyak tiga kali. Melalui doa tersebut, seorang hamba memohon ampunan atas segala kekhilafan, dosa, serta pertobatan yang tertunda selama satu tahun ke belakang. Di sisi lain, doa ini juga berisi permohonan agar amal-amal kebaikan yang telah dikerjakan sepanjang tahun dapat diterima di sisi Allah SWT.
Berikut lafadz doa akhir tahun baru hijriyah:
اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ
Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba‘da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da‘autanî ilat taubati min ba‘di jarâ’atî ‘alâ ma‘shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa‘attanî ‘alaihits tsawâba, fa’as’aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha‘ rajâ’î minka yâ karîm.
Artinya: “Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”
Sementara itu, memasuki detik-detik awal tahun, pembacaan doa awal tahun didegungkan sebanyak tiga kali dengan harapan penuh agar Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan dari godaan setan. Doa ini juga memuat permohonan agar diberikan kekuatan dalam mengendalikan hawa nafsu, serta kelancaran dalam berbagai urusan mulai dari kesehatan, keharmonisan keluarga, rezeki, karier, hingga akhir hayat yang husnul khatimah.
Terkait momentum pembacaannya, para ulama menyatakan bahwa melafalkan doa akhir dan awal tahun yang bersumber dari kalender Hijriah pada saat pergantian tahun Masehi hukumnya diperbolehkan dalam agama. Hal ini dikarenakan tidak ada dalil khusus yang melarang umat Islam untuk berdoa.
Berikut ini doa awal tahun Hijriyah:
اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ
Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa ‘alâ fadhlikal ‘azhîmi wa karîmi jûdikal mu‘awwal. Hâdzâ ‘âmun jadîdun qad aqbal. As’alukal ‘ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ’ih, wal ‘auna ‘alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû’I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.
Artinya: “Tuhanku, Kau Yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.”
Kendati demikian, masyarakat diimbau untuk tetap bijak dengan tidak meyakini secara khusus bahwa amalan tersebut merupakan sunah spesifik dari Nabi Muhammad SAW untuk tahun baru Masehi. Pembacaannya didasarkan pada anjuran umum untuk senantiasa berdoa kapan pun dan di mana pun.
Selain berdoa, umat Muslim juga disarankan mengisi momen transisi tahun ini dengan memperbanyak amalan positif lainnya, seperti bersedekah, membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, serta bershalawat. (Nars)














