KUNINGAN – Warga Desa Cikondang, Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan, diresahkan oleh serangan hewan buas yang menerkam ternak milik warga. Tujuh ekor kambing ditemukan mati dalam kondisi mengenaskan pada Rabu pagi (7/5/2025), usai serangan yang diduga terjadi tengah malam sebelumnya.
Serangan ini disebut baru pertama kali terjadi di wilayah tersebut. Namun, warga mengaku sudah sering melihat penampakan hewan buas yang diduga macan tutul di sekitar hutan desa.
- Kunci Ketinggalan, 50 Menit Damkar Kuningan Berjibaku Buka Pintu Mobil Warga
- Bukan Sekadar Tempat Healing, Desa EKI Situ Cipanten Bakal Bikin Warga Makin Cuan!
- Cegah Longsor dan Banjir, Istri Prajurit ‘Serbu’ Kebun Raya Kuningan untuk Investasi Ekologis
- Tiket Asian Para Games 2026 Aman, Lifter Hilman Buka Jalan ke Nagoya Jepang
- Lawan Fluktuasi Harga Pasar, Emak-Emak Kuningan Sulap Pekarangan Jadi ‘Supermarket’ Hidup
”Ini kejadian pertama serangan terhadap ternak, sebelumnya warga hanya melaporkan sering melihat macan tutul di sekitar hutan,” ujar Kepala Desa Cikondang, Lia Nuryanah, saat dikonfirmasi.
Korban serangan hewan buas kali ini adalah Hadri, peternak asal RT 005 RW 002 Dusun Cikondang 2. Dari sepuluh ekor kambing yang ia pelihara di kandang Blok Jene, tujuh ekor ditemukan mati. Empat bangkai kambing berada di sekitar kandang, satu di luar kandang, dan dua lainnya diduga dibawa masuk ke dalam hutan oleh hewan pemangsa.
Menanggapi kejadian tersebut, Hadri berencana menjual tiga ekor kambing yang tersisa. Ia khawatir kejadian serupa akan terulang dan menyebabkan kerugian lebih besar.
“Rencananya akan dijual saja karena takut kambing yang tersisa juga jadi sasaran,” ujar Lia menirukan keluhan warganya.
Langkah serupa juga tengah dipertimbangkan oleh sejumlah peternak lain di desa tersebut. Mereka memilih memindahkan kambing-kambing mereka ke lokasi kandang yang lebih aman dan dekat dengan pemukiman.
Kepala Desa Lia Nuryanah menyebut lokasi kandang milik Hadri memang cukup jauh dari permukiman warga, sekitar tiga kilometer. Hal itu membuat respons terhadap serangan hewan liar menjadi terlambat dan rawan terulang.
Kerugian akibat insiden ini ditaksir mencapai Rp10 juta. Pemerintah desa, lanjut Lia, akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait termasuk BKSDA untuk langkah penanganan dan pencegahan agar kejadian serupa tak kembali terjadi. (Nars)
























