KUNINGAN – Puluhan pelajar SMP dan SMA memadati kawasan Gunung Tilu pada Sabtu (23/23/2025) untuk mengikuti kegiatan Mini Ecoeduforestry yang diselenggarakan oleh PPK Ormawa Mahasiswa Pecinta Alam (Mahakupala).
Acara ini diikuti oleh 41 pelajar yang datang dengan semangat tinggi untuk belajar langsung mengenai pentingnya konservasi hutan.
- Kisah Haru Silvi, Siswi SMKN 1 Luragung dari Desa Relokasi yang Gigih Sekolah Meski Pakai Seragam Bekas SMP
- Hadapi Kemarau Ekstrem, Petani Kuningan Diimbau Alihkan Pola Tanam
- Takut Aib Terbongkar, Ibu Muda di Kuningan Tega Buang Bayi Hasil Hubungan Gelap ke Sekitar Aliran Sungai
- Eksploitasi Anak dalam Promosi Vape, Komdigi Beri Ultimatum Tiga Hari untuk YouTube
- Transformasi Pertanian Kuningan: Inovasi Traktor AI, Perluasan Lahan 5.671 Hektare, hingga Eksplorasi Komoditas Baru
Sejak pagi, para peserta menerima pembekalan mengenai fungsi hutan dan peran penting pohon sebagai penyedia oksigen. Setelah itu, mereka diajak melakukan kegiatan inti, yaitu penanaman pohon di area rehabilitasi yang telah dipetakan di kawasan Gunung Tilu.
Selain praktik menanam, para pelajar juga mengikuti sesi edukasi yang disampaikan secara interaktif, sehingga mereka lebih mudah memahami isu-isu lingkungan.
“Pengalaman ini sangat berkesan karena memberikan pengetahuan baru yang tidak kami dapatkan di sekolah,” aku beberapa pelajar.
Ketua PPK Ormawa Mahakupala menekankan bahwa kegiatan ini adalah langkah penting untuk menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini. “Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanamkan kesadaran kepada generasi muda agar kelak mereka bisa meneruskan perjuangan menjaga alam,” jelasnya.
Kegiatan ini juga mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat. Warga menilai kolaborasi antara mahasiswa dan pelajar ini mampu mempererat hubungan antara dunia pendidikan dan lingkungan sekitar.
Mereka berharap kegiatan serupa dapat rutin diadakan agar manfaatnya terasa dalam jangka panjang.
Dengan suksesnya Mini Ecoeduforestry, Mahakupala berharap rasa cinta lingkungan di kalangan generasi muda dapat menjadi modal sosial utama dalam menjaga kelestarian hutan Gunung Tilu, yang selama ini berperan vital sebagai daerah resapan air dan habitat keanekaragaman hayati. (Nars)












