

KUNINGAN – Sektor agrikultur di Kabupaten Kuningan tengah memasuki babak baru yang lebih modern dan agresif. Tidak sekadar mengejar target swasembada pangan nasional, inovasi teknologi mutakhir kini mulai diterjunkan ke area persawahan demi memikat kembali minat generasi milenial untuk bertani.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah saat ini menjalankan strategi komprehensif dari hulu ke hilir. Mulai dari modernisasi alat, perluasan lahan tanam, hingga penyelamatan komoditas lokal dari ancaman hama.
- Harga Panen Anjlok dan Modal Membengkak, Petani Sayur di Kuningan Keluhkan Harga Beli
- Awas Penyakit Hati! Ini Bahaya Sifat Hasud dan Cara Mengatasinya Menurut Kitab Tanbihul Ghafilin
- Soroti Ambisi Aklamasi Muscab Demokrat Kuningan, Dugaan Kader Senior Didepak, 2029 Terancam Nol Kursi!
- Akses Desa Gunung Manik Mulus, TMMD Kodim Kuningan Resmi Tuntas
- Tiga Hari Ikuti “Ngabela Nagara” Bakesbangpol Jabar, Tina Wiryawati Soroti Apatisme Gen Z
Salah satu gebrakan paling menyita perhatian adalah pengenalan traktor tanpa awak berbasis Artificial Intelligence (AI). Teknologi hasil kolaborasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menjadi primadona pada perayaan Hari Krida Pertanian ke-54 bulan lalu.
“Tantangan terbesar kita saat ini adalah regenerasi. Dengan menghadirkan traktor berbasis AI yang bisa dioperasikan melalui remote control, kami ingin mengubah stigma bahwa bertani itu kotor dan kuno. Pertanian Kuningan harus maju dan anak muda adalah kunci utamanya,” papar Wahyu Hidayah.
Sejalan dengan modernisasi, Diskatan Kuningan juga memacu percepatan masa tanam padi. Pada periode Juli 2026 ini, pemerintah menargetkan penambahan luas lahan tanam hingga 5.671 hektare.
Wahyu menjelaskan bahwa program Gerakan Tanam Bersama telah diinstruksikan untuk difokuskan di beberapa lumbung padi daerah, seperti Desa Cileuleuy, Cilimus, dan Kecamatan Cigugur.
“Kita harus memastikan indeks pertanaman meningkat. Lahan tidak boleh dibiarkan menganggur pasca-panen. Percepatan ini adalah bentuk kontribusi nyata Kuningan terhadap ketahanan pangan nasional,” tambahnya.
Di sektor perkebunan, mitigasi hama tengah digencarkan, terutama merespons serangan jamur akar putih dan penggerek batang pada sentra kopi di Dusun Inrahayu, Kecamatan Cibeureum. Bersama Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) dan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Jawa Barat, Diskatan mengedukasi petani untuk kembali ke metode ramah lingkungan.
“Kami mendorong perbaikan pH tanah menggunakan kapur dolomit dan pembuatan rorak kompos. Ketergantungan pada pupuk kimia berlebih harus mulai dikurangi agar ekosistem kebun kopi lokal tetap lestari dan kualitas biji kopinya bersaing,” ungkap Wahyu.
Sebagai langkah penguatan ekonomi ke depan, Diskatan kini tidak hanya bertumpu pada padi dan kopi. Wahyu membocorkan bahwa Kabupaten Kuningan tengah menyiapkan pemetaan lahan untuk komoditas buah naga dan kelapa. Kedua komoditas ini diproyeksikan menjadi produk unggulan baru yang mampu mendongkrak kesejahteraan petani lokal di masa mendatang. (Nars)



