KUNINGAN – Kunjungan kerja gabungan Komisi DPRD Kabupaten Kuningan ke proyek perluasan kawasan wisata Arunika di Desa Cisantana, Jum’at (19/12/2025), diwarnai kritik dari salah seorang Anggota DPRD Kuningan.
Politisi Dapil 5 Kuningan, Rana Suparman, menyoroti kesalahan fatal dalam pemilihan vegetasi yang sedang ditanam di kawasan Arunika di Lereng Gunung Ciremai tersebut.Rana mengaku kecewa berat melihat dominasi pohon pinus di area wisata.
- Tak Hanya Peduli Gunung, KTH Paguyuban Silihwangi Majakuning Bersihkan Eceng Gondok Waduk Darma
- Tunjangan DPRD Kuningan Dipangkas demi Efisiensi Anggaran, Sekwan: Tidak Ada Ruang Gelap
- Segini Besaran Tunjangan Perumahan dan Transportasi DPRD Kuningan Berdasarkan Kajian KJPP
- Buka Bukaan Tunjangan DPRD Kuningan, Sekwan Dorong Transparansi di Tengah Tuntutan Efisiensi Fiskal Daerah
- Ujang Kosasih “Bintang Lima” Pimpin PKB Kuningan Lagi, Sekjen Baru Aras Rasdi Usia 35 Tahun
Menurutnya, secara ekologis, pinus bukanlah tanaman yang ramah terhadap fungsi hidrologi atau penyimpanan air tanah, yang seharusnya menjadi prioritas di kawasan kaki gunung.
“Saya jujur saja, datang ke sini saya sudah marah di bawah, kecewa. Pinusnya terlalu banyak. Mana pinus menghasilkan hidrogen dan oksigen? Enggak ada. Itu tanaman ‘deungeun’ (asing), penjajah itu mah,” cetus Rana dengan nada tinggi di lokasi peninjauan.
Politisi PDI Perjuangan ini bahkan membandingkan pinus dengan tanaman produktif lainnya. “Saya lebih bangga melihat pohon jengkol tumbuh di sini daripada pinus,” sindirnya.
Rana mengimbau manajemen Arunika untuk segera mengevaluasi pola penghijauan yang sedang mereka lakukan.
Ia meminta pengelola mengganti atau memperbanyak tanaman endemik lokal yang terbukti ampuh menjaga struktur tanah dan menyimpan cadangan air, seperti pohon sukun, caringin, dan bunut.
“Gunung Ciremai itu ‘tetengger’ negara. Harus ditanam pohon pituin (asli). Tanya orang tua dulu, di bukit ini adanya pohon apa? Itu yang harus dikembalikan,” tegasnya.
Kritik ini disampaikan mengingat posisi strategis kawasan Cisantana sebagai daerah tangkapan air (catchment area) yang vital bagi masyarakat Kuningan dan sekitarnya. (Nars)














