Lingkungan Bencana Kuningan

Sentil Pengelola Arunika, Rana: Saya Lebih Bangga Lihat Pohon Jengkol daripada Pinus‎‎

KUNINGAN – Kunjungan kerja gabungan Komisi DPRD Kabupaten Kuningan ke proyek perluasan kawasan wisata Arunika di Desa Cisantana, Jum’at (19/12/2025), diwarnai kritik dari salah seorang Anggota DPRD Kuningan. ‎‎

Politisi Dapil 5 Kuningan, Rana Suparman, menyoroti kesalahan fatal dalam pemilihan vegetasi yang sedang ditanam di kawasan Arunika di Lereng Gunung Ciremai tersebut.‎‎Rana mengaku kecewa berat melihat dominasi pohon pinus di area wisata.

Menurutnya, secara ekologis, pinus bukanlah tanaman yang ramah terhadap fungsi hidrologi atau penyimpanan air tanah, yang seharusnya menjadi prioritas di kawasan kaki gunung.‎‎

“Saya jujur saja, datang ke sini saya sudah marah di bawah, kecewa. Pinusnya terlalu banyak. Mana pinus menghasilkan hidrogen dan oksigen? Enggak ada. Itu tanaman ‘deungeun’ (asing), penjajah itu mah,” cetus Rana dengan nada tinggi di lokasi peninjauan.‎‎

Politisi PDI Perjuangan ini bahkan membandingkan pinus dengan tanaman produktif lainnya. “Saya lebih bangga melihat pohon jengkol tumbuh di sini daripada pinus,” sindirnya.‎‎

Wakil Bupati Kuningan Dorong Sinergi Pembangunan dan Sukseskan PTSL dalam Konsolidasi APDESI Merah Putih

Rana mengimbau manajemen Arunika untuk segera mengevaluasi pola penghijauan yang sedang mereka lakukan.

Ia meminta pengelola mengganti atau memperbanyak tanaman endemik lokal yang terbukti ampuh menjaga struktur tanah dan menyimpan cadangan air, seperti pohon sukun, caringin, dan bunut.‎‎

“Gunung Ciremai itu ‘tetengger’ negara. Harus ditanam pohon pituin (asli). Tanya orang tua dulu, di bukit ini adanya pohon apa? Itu yang harus dikembalikan,” tegasnya.‎‎

Kritik ini disampaikan mengingat posisi strategis kawasan Cisantana sebagai daerah tangkapan air (catchment area) yang vital bagi masyarakat Kuningan dan sekitarnya. (Nars)

Punya Sertifikat! Tembakau Kuningan Naik Kelas, Tak Bisa Lagi Diklaim Daerah Lain

× Advertisement
× Advertisement