

KUNINGAN – Siapa sangka sisa makanan dan sampah dapur yang biasanya berujung membusuk di tempat pembuangan, kini justru disulap menjadi ‘tambang emas’ baru oleh kalangan ibu rumah tangga di Kabupaten Kuningan.
Lewat gebrakan program Klasterisasi Budidaya Maggot, sebanyak 30 emak-emak yang tergabung sebagai nasabah PNM Mekaar Unit Jalaksana kini membuktikan bahwa limbah organik bisa disulap menjadi pundi-pundi rupiah yang menjanjikan.
- Sah! PWI Pusat Tetapkan Dua Kandidat Bertarung Rebut Kursi Ketua PWI Jabar 2026-2031
- Bawa Uang Rp 50 Ribu, Nikmati Wisata Kuliner Mengenyangkan di Kopi Lendot Mang Elon Reborn Kuningan
- Jamin Higienitas MBG, SPPG Jagara Kuningan Terapkan IPAL Terintegrasi dan Gandeng BUMDes Olah Sampah
- Krisis Air Bersih Melanda Desa Pakembangan, Dian Rachmat Yanuar Janjikan Solusi Cepat Bersama PUTR dan PDAM
- Miniatur Lembur Pakuan KDM Hadir di Kuningan, Warga Jagara Sulap Gerbang Desa dengan Nuansa Tradisional
Ubah Mindset: Dari Bau Menjadi Uang
Langkah inovatif ini jelas bukan sekadar ajang bersih-bersih lingkungan desa. Pemimpin Cabang PNM Cirebon, Erwin Syafriadi, membeberkan bahwa pelatihan budidaya maggot jenis Black Soldier Fly (BSF) ini memang dirancang dengan pendekatan klaster bisnis. Tujuannya tajam yakni mencetak kemandirian ekonomi bagi perempuan prasejahtera.
“Limbah organik rumah tangga itu kita manfaatkan sebagai media budidayanya. Hasil panennya nanti berupa maggot dan kasgot (bekas maggot). Dua-duanya punya nilai jual tinggi di pasaran, maggot untuk pakan ternak kaya protein, dan kasgotnya untuk pupuk organik,” beber Erwin.
Menariknya, pembinaan ini tidak setengah hati. Selama tiga bulan penuh, para peserta mendapat pendampingan intensif dari kalangan akademisi Universitas Muhammadiyah Cirebon.
Mereka tak cuma diajari cara beternak lalat tentara hitam ini, tapi juga digembleng ilmu manajemen usaha sederhana hingga trik jitu memasarkan produk agar dilirik pembeli.
Alhasil, pola pikir peserta berubah drastis. Sampah yang dulunya dianggap menjijikkan dan sekadar jadi beban rumah tangga, sekarang malah dicari untuk diputar menjadi cuan tambahan penopang ekonomi keluarga.
Solusi Cerdas di Tengah Darurat Sampah Nasional
Apa yang dilakukan emak-emak di Jalaksana ini faktanya menjadi jawaban atas persoalan klasik tata kelola lingkungan hidup.



