KUNINGAN – Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Kuningan pada Sabtu (28/3/2026) sore memicu luapan air bah di aliran Sungai Cipedak. Kuatnya arus sungai tak ayal menghantam proyek rehabilitasi Jembatan Cijemit yang tengah berjalan.
Akibatnya, pilar tengah jembatan hancur dan tiga gelagar besi seberat puluhan ton ikut terseret arus.
- Punya Potensi Puluhan Ribu Anggota, Pengurus IKA STEMGA Kuningan Resmi Dilantik di Pendopo
- Akui Fasilitas Sekolah Belum Merata, Bupati Kuningan Sampaikan Pesan Ini di Hardiknas 2026
- Akhirnya Terjawab, Kisruh Dana Taspen PPPK Guru Kuningan Telah Diselesaikan Disdikbud
- Mayday 2026: KSPSI Kuningan Desak Buruh Berani Lapor Praktik Upah di Bawah Standar
- Refleksi Milad Ke-94 Pemuda Muhammadiyah untuk indonesia jaya
Detik-detik mencekam saat debit air sungai yang beringas menyapu material jembatan tersebut sempat terekam kamera amatir warga. Video itu pun dengan cepat menyebar dan viral di berbagai grup percakapan media sosial warga Kuningan.


Kepala Bidang Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Kuningan, Teddy Sukmajayadi, mengonfirmasi insiden tersebut. Ia memaparkan bahwa secara keseluruhan, progres perbaikan jembatan sebenarnya sudah mencapai 50 persen.
Beberapa struktur bangunan utama dipastikan tetap kokoh meski diterjang banjir. “Untuk bangunan utama kondisinya aman. Abutment (kepala jembatan) sisi selatan yang baru selesai kondisinya baik. Begitu juga selimut beton abutment utara yang progresnya 50 persen, serta Tembok Penahan Tanah (TPT) sayap utara hilir yang sudah 80 persen, semuanya dalam kondisi baik dan tidak terdampak,” ungkap Teddy dalam laporan tertulis yang diterima Kuningan Religi, Sabtu malam.
Namun, Teddy mengakui bahwa volume dan ketinggian air bah sore itu benar-benar di luar dugaan. Ketinggian banjir vertikal di area jembatan ditaksir mencapai 7 hingga 8 meter. Luapan dahsyat ini bahkan mengalahkan rekor banjir sebelumnya yang selama dua bulan terakhir tak pernah menyentuh jembatan bambu darurat di lokasi yang sama.
“Sebelumnya, empat buah gelagar besi sudah kami posisikan menopang di atas pilar tengah—yang dalam desainnya memang pilar tersebut akan dibongkar belakangan. Namun, terjangan arus merubuhkan pilar tengah tersebut, sehingga tiga buah besi WF gelagar ikut terseret arus,” jelasnya.
Meski sempat terseret, Teddy memastikan material besi WF tersebut tidak hilang dan masih berada di sekitar lokasi jembatan. “Besok kami akan mulai merencanakan dan melakukan evakuasi material tersebut. Kami mohon doanya agar proses perbaikan jembatan ini tidak menemui kendala berarti ke depannya,” tambah Teddy.
Sementara itu, meninjau dari sisi kebencanaan, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, menyebut bahwa curah hujan ekstrem merupakan faktor utama dari meluapnya Sungai Cipedak.
“Curah hujan yang sangat tinggi sejak sore tadi menyebabkan peningkatan debit air yang sangat masif di hulu. Arus aliran Sungai Cipedak yang deras ini membawa tekanan yang luar biasa besar, sehingga mampu menghanyutkan material berat di proyek Jembatan Cijemit,” jelas Indra.
Menyikapi anomali cuaca yang masih membayangi wilayah Kuningan, Indra mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. “Kami meminta masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai atau yang kerap melintasi jembatan-jembatan rawan untuk lebih berhati-hati. Potensi hujan lebat dan angin kencang diprediksi masih dapat terjadi sewaktu-waktu,” ungkap IBE sapaannya. (Nars)
























